Senin, 18 April 2011

cara buat account paypal

Apa itu paypal ? paypal adalah salah satu alat pembayaran (Payment procesors) menggunakan internet yang terbanyak digunakan didunia dan teraman. Pengguna internet dapat membeli barang di ebay, lisensi software original, keanggotaan situs, urusan bisnis, mengirim dan menerima donasi/sumbangan, mengirim uang ke pengguna PayPal lain di seluruh dunia dan banyak fungsi lainnya dengan mudah dan otomatis menggunakan internet, PayPal mengatasi kekurangan dalam pengiriman uang tradisional seperti Cek atau Money order yang prosesnya dapat memakan waktu PayPal seperti rekening bank, pertama anda membuat account, lalu mengisi account tersebut dengan dana dari kartu kredit atau transferan dana dari account paypal orang lain ke balance paypal anda, dan anda sudah dapat menggunakan account PayPal untuk bertransaksi

Februari 2008 PayPal sudah menerima 190 negara dan 16 mata uang, pengguna PayPal Indonesia masih harus menggunakan hitungan US dollar karena rupiah belum ada di PayPal

Ebay adalah tempat lelang/jual-beli/pasar-online terbesar didunia, dengan pengguna lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia (data juni 2006), anda dapat mencari dan membeli apapun, mulai dari barang elektronik, kendaraan, hingga barang-barang langka dari seluruh pengguna ebay didunia, cara pembayaran utama di Ebay adalah dengan PayPal karena lebih aman dan otomatis, meskipun ada penjual yang menerima pembayaran dengan cara lain

Baiklah, Langsung saja pada intinya bagaimana caranya kita bisa daftar ke paypal ini. Untuk lebih lanjutnya silahkan klik disini untuk melakukan pendaftaran.


Muncul halaman seperti di atas, kamu pilih dan klik Sign Up Today untuk melanjutkan

Dah gitu, kamu pilih Your Country or Region dengan negara kamu. Untuk Your Languange bebas kalau kamu memang ngerti semua bahasa dunia. Setelah itu, kamu pilih account yang premier aja, supaya kita bisa melakukan transaksi dua arah, sell dan buy kemudian pilih tombol Get Started untuk menuju halaman pendaftarannya.


Kamu isi dech data-datanya

Email Address : email kamu yang benar-benar aktif
Choose a Password : masukan Password atau kata sandinya
Re-enter Password : masukan kembali passwornya sama seperti di atas
First Name : Nama Depan kamu
Middle Name : Nama tengah kamu, kalau tidak punya kosongkan saja
Last Name : Nama belakang kamu
Date Of Birth : Tanggal Bulan dan tahun kelahiran kamu
Nationality : Pilih negara kamu
Address Line 1 : isi lengkap alamat rumah kamu sesuai KTP
Address Line 2 : Bisa di kosongkan kalau tidak memiliki alamat ke dua
City : Kamu isi kota kamu tinggal
State / Province / Region : Propinsi kamu
Postal Code : Kode Pos
Phone Number : No telp atau Handphone kamu contoh "0813678902XX" atau "0819123446XX"

Sudah itu, kamu pilih dan klik tombol I agree, Create My Account untuk melanjutkandan nantinya kamu akan menerima email konfirmasi bahwa kamu telah mendaftar dan untuk mengaktifkan account PayPal, buka email dari PayPal tersebut dan klik link konfirmasi yang terdapat didalamnya, untuk konfirmasi bahwa kamu adalah pemilik email tersebut

Setelah itu kamu akan dibawa kembali ke situs PayPal dan masukan password kamu, lalu ikuti langkah selanjutnya, setelah itu kamu akan masuk ke halaman My Account

Jika kamu sudah memasukan data kartu kredit ke account PayPal kamu akan ada link untuk menjadi Verified PayPal account (Kebenaran alamat kamu sudah di cek oleh PayPal)

Pilihan 1 : Untuk mendaftar menjadi Verified PayPal account sekarang tekan link untuk mendapatkan 4 digit kode keamanan dari PayPal, yang akan dikirimkan kedalam statement bulanan atau statement online kartu kredit kamu (akan dikirim dalam waktu 2-3 hari kerja), kartu kredit kamu akan di charge $1.95 USD untuk keperluan ini. Tujuan mengirimkan kode keamanan PayPal ini adalah untuk memastikan bahwa alamat yang kamu berikan adalah benar (bukan alamat fiksi belaka).
Jika kamu sudah mendapatkan 4 digit kode keamanan tersebut dari statement bulanan atau statement online kartu kredit kamu kemudian, login dengan account PayPal, kemudian dihalaman My Account klik link confirm untuk memasukan 4 digit kode keamanan dari PayPal, setelah kamu memasukan 4 digit kode keamanan tersebut account PayPal kamu akan menjadi Verified account dan akan ditambahkan $1.95 USD kedalam account PayPal kamu otomatis kemudian karena menjadi Verified account, jadi hitung-hitung gratis. Kamu akan dibawa kembali ke halaman My Account

Pilihan 2 : Jika kamu tidak ingin menjadi Verified member sekarang lewatkan bagian ini, klik link untuk mendapatkan 4 digit kode keamanan dari PayPal lain waktu dihalaman My Account setelah login untuk mendaftar menjadi Verified Account, agar limit dana kamu tidak dibatasi, kamu akan dibawa kembali ke halaman My Account

Sekarang kamu sudah mempunyai account PayPal Unverified account untuk melakukan pembayaran atau mengirim uang ke account PayPal lain dengan limit $100 USD (atau mungkin lebih pada beberapa account tergantung kartu kredit yang digunakan), serta dapat menerima uang dari account PayPal lain dengan limit terbatas. Untuk menghilangkan limit Account paypal anda harus menjadi Verified member (Kebenaran alamat kamu sudah di cek oleh PayPal) dengan cara mengikuti Langkah-langkah diatas

Dengan Unverified PayPal kamu belum bisa withdraw ke rekening bank atau kartu kredit. Untuk bisa withdraw menarik uang dari balance paypal, kamu sudah harus menjadi Verified account.

Jika kamu belum memasukan atau ingin menambah kartu kredit, login dengan account PayPal kamu dan ke My Account --> Profile --> Add or Edit Credit Card
Berhubung perjalanan masih jauh dan masih panjang saya rasa cukup, untuk keterangan lebih detail kamu bisa lihat di paypalindonesia karena sedikitnya saya ambil dari sana.

KONTROL UKURAN

Dengan pengontrolan terhadap ukuran mineral, ada satu hal yang bisa kita pahami disini, bahwa proses pemisahan padatan menjadi dua atau lebih produk terpisah dilakukan berdasarkan ukuran mineralnya. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa mesin crusher maupun grinder keduanya tidak bisa menghasilkan padatan dengan ukuran – ukuran yang tepat sesuai yang diinginkan. Dengan pengendalian ukuran yang optimum, kualitas akhir produk hasil crushing dan grinding bisa ditingkatkan. Pengendalian ukuran tersebut bisa dilakukan dengan mempertimbangkan kapasitas, bentuk dan ukuran partikel.

Pengendalian ukuran secara operasional.

Mencegah adanya partikel undersize dalam umpan yang dapat menghambat tahapan reduksi ukuran (scalping)


Mencegah partikel oversize masuk ke dalam tahap reduksi ukuran atau tahap operasi selanjutnya (sirkuit sizing)

Menyeleksi produk akhir dengan range ukuran yang tertentu (sizing produk)



Pengendalian ukuran secara metodologi

Dalam teknis pengolahan mineral ada dua metode yang sering digunakan untuk proses pengendalian ukuran :
• Screening (Pengayakan). Pengendalian ukuran dengan menggunakan sebuah pola geometris tertentu.

• Klasifikasi, metode pengendalian ukuran dengan memanfaatkan pergerakan partikel.

IV.1. Screen (Ayakan)

Performa dari screen (alat pengayak) ditentukan oleh tiga parameter, yaitu pergerakan (motion), kemiringan (inclination), dan media screen.

Pergerakan Screen
Proses screening bertingkat.

Dengan menumpuk material pada screen, kondisi material akan terbagi dalam tingkatan – tingkatan pada saat screen digerakan akibat menurunnya gaya gesek internal antar material. Ini berarti partikel yang lebih kecil akan dapat melewati rongga antar partikel yang lebih besar, sehingga terjadi proses pemisahan secara tajam.


Screening dengan metode free fall

Dengan meningkatkan kemiringan screen pada metode screen sebelumnya (dari 10 – 15 menjadi 20 – 30 derajat), maka partikel pada screen akan berada dalam keadaan jatuh bebas. Artinya tidak ada lapisan partikel yang menumpuk diatas screen. Pada metode ini yang berperan utama memisahkan partikel kecil dan besar adalah media screen sendiri, sehingga kapasitasnya semakin bertambah, tetapi pemisahan yang terjadi tidak tajam (distribusi ukuran masih bervariasi).

IV.1.1. Jenis – jenis Screen

Ada banyak jenis screen, tetapi secara umum dibedakan menjadi empat jenis, seperti terlihat pada gambar dibawah. Dari empat jenis screen tersebut, yang paling banyak digunakan di seluruh dunia (sekitar 80% pengguna) adalah screen dengan jenis single inclination, stratifications screen. Jenis lain adalah double, triple, atau multiple inclination, dimana screening secara bertingkat dan metode jatuh bebas dikombinasikan untuk aplikasi yang berbeda – beda.

















IV.1.2. Kapasitas Screen

Untuk menentukan kapasitas screen, kita bisa menggunakan gambar dibawah. Dalam hal ini screening yang dipakai adalah screen kawat dengan metode stratification.


Contoh:
Single deck scree. Ukuran umpan 50% - 2mm. Kapasitas Umpan 90 ton/jam, cut 2mm.
Pilihan : screen deck dengan ukuran 10 m2.




IV.1.3. Pemilihan media screen

Pemilihan ukuran dan jenis screen yang tepat untuk suatu aplikasi pengontrolan ukuran merupakan suatu hal yang sangat penting. Hal yang sama penting adalah pemilihan dari media screen itu sendiri. Dibawah ini merupakan pedoman singkat dalam memilih media screen.








IV.1.4. Ketebalan screen

Aturan umum untuk ketebalan minimum screen adalah

Ukuran umpan Maksimaum = Ketebalan panel
4




Jenis – jenis Panel




Ukuran Lubang untuk deck dengan kemiringan

Pedoman umum untuk wire mesh :
Ukuran produk yang diinginkan ditambah 5 – 10 %


Pedoman umum untuk panel karet :
Ukuran produk yang diinginkan ditambah 25 – 30 %

Pedoman umum untuk panel PU
Ukuran produk yang diinginkan ditambah 15 – 20 %

Bentuk Lubang

Jenis Standar


Untuk meningkatkan umur pakai (screening kasar)


Meningkatkan Kapasitas



Meningkatkan akurasi dan dewatering



Ukuran Partikel – Konversi dari Mesh ke Mikron



IV.2. Klasifikasi

Untuk control ukuran partikel dengan kehalusan lebih kecil dari 1 mm, maka proses screening tidak bisa lagi digunakan. Dalam hal ini proses klasifikasi lebih diprioritaskan. Klasifikasi sendiri merupakan proses pemisahan partikel berdasarkan ukuran menjadi dua atau lebih bagian produk sesuai dengan perilakuk partikel tersebut dalam udara ataupun air (cairan).




IV.2.1. Metode – metode Klasifikasi

• Klasifikasi dalam kondisi basah dengan Hydrocyclone, proses pemisahan partikel dengan memanfaatkan gaya sentrifugal. Kisaran ukuran partikel yang dihasilkan dari 100 – 10 mikron.
• Klasifikasi dalam kondisi basah dengan Spiral Clasifier, proses pemisahan partikel dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Kisaran ukuran partikel yang dihasilkan dari 100 – 1000 mikron.
• Klasifikasi dalam kondisi kering, memanfaatkan gaya sentrifugal dengan kisaran ukuran partikel produk sebsar 150 – 5 mikron.

Klasifikasi dalam kondisi basah – Dasar



Sebuah partikel bebas akan bergerak lebih cepat bila dibandingkan dengan partikel yang disekelilingnya terdapat partikel – partikel lain yang menghalangi pergerakannya, seperti gerak partikel pada slurry yang dnesitas dan viskositasnya tinggi.
Perbandingan gerak kedua partikel tersebut diatas, dikenal dangan pergerakan partikel bebas dan hindered partikel, dan berlaku baik dalam proses klasifikasi secara gravitasi maupun sentrifugal.





IV.2.2. HydroCyclone

Gaya sentrifugal akan memisahkan padatan berdasarkan ukuran (masa). Partikel yang lebih berat akan bergerak turun menuju underflow berputar di sepanjang permukaan dinding. Sedangkan partikel yang lebih ringan akan bergerak disepanjang pusat putaran menuju keatas (overflow)







Desain Hydrocyclone

1. Vortex finder
2. Inlet Head
3. Spigots (apex)
4. Overflow Elbow
5. Feed Inlet
6. Barrel
7. Cones
8. Cone Extension

Aplikasi Hydocyclone

Beberapa aplikasi hydrocyclone dalam pengolahan mineral adalah:
• Klasifikasi dalam sirkuit grinding
• Dewatering dan Thickening
• Desliming dan Pencucian
• Pengayaan logam – logam berat (DMS)






Pemilihan ukuran Hydrocyclone.

Pemilihan jenis hydrocyclone yang tepat tergantung dari beberapa factor yang saling berhubungan. Dibawah adalah prosedur sederhana yang bisa membantu kita dalam melakukan pemilihan tahap awal.

Nominal Cut Point

Beberapa Hydrocyclone tidaklah efisien, partikel kasar seringkali terbawa ke overflow, dan sebaliknya partikel halus muncul di underflow. Titik Potong Nominal (Nominal Cut Poit) dari sebuah cyclone disebut dengan d50, merupakan ukuran partikel yang mempunyai kemungkinan 50 % (fifty – fifty) untuk muncul di overflow dan underflow. Titik potong tersebut digunakan untuk memilih diameter cyclone yang tepat.



Menentukan Cut Point

Dalam prakteknya, pemilihan cyclone ini berdasarkan analisa ukuran yang diperlukan dari overflow. Contoh: 95% - 100 mikron (K95 = 100 mikron).

Konversi menjadi Cut Poit d50

Contoh : Sebuah sirkuit flotasi membutuhkan umpan dengan ukuran 95% - 75 mikron. Ini sama artinya dengan nominal cut point d50 = 75 x 0,65 = 48,75 mikron.






Densitas Umpan

Untuk proses klasifikasi yang efektif, densitas umpan sebaiknya serendah mungkin.

Padatan = 10 – 15 % volume →→ Efisiensi Bagus
Padatan = 15 – 30 % volume →→ Efisiensi cukup
Padatan = > 30 % volume →→ Inefisien

Tekanan umpan akan berpengaruh terhadap cut point, tekanan tinggi cut point rendah.



Memilih diameter hydrocyclone

Apabila d50 sudah diketahui, diameter hydrocyclone bisa dipilih berdasarkan table berikut.



Menentukan jumlah hydrocyclone yang digunakan.

Kapasitas volume cyclone tergantung dari diameternya. Cyclone yang berdiameter besar akan mempunyai kapasitas yang besar pula. Jika diameter cyclone sudah diketahui, maka dengan bantuan table dibawah ini dapat ditentukan juga jumlah unit cyclone yang diperlukan untuk mengolah kapasitas umpan yang ada. Contoh : cyclone yang berdiameter 250 mm, flow rate = 100 m3/jam/unit.


IV.2.3. Spiral Clasifier

Dengan mengkombinasikan gaya gravitasi dan bentuk spiral untuk dilewati oleh sediment, maka spiral classifier sudah tersusun.

Desain Spiral Calsifier

Desain dari Spiral Clasifier cukup sederhana hanya ada sedikit bagian yang bergerak.




Aplikasi dari Spiral Clasifier

Seperti Hydrocyclone, mesin ini juga bisa digunakan untuk beberapa aplikasi praktis dalam proses pengolahan mineral. Diantaranya adalah :
• Grinding sirkuit tertutup (primary classification dengan cyclone sebagai secondary)
• Dewatering
• Sand Recovery
• De-Sliming
• Densifikasi Heavy Media

Spiral Clasifier

Pemilihan Spiral Clasifier terdiri dari tiga tahap. Yang pertama adalah diameter spiral, jumlah susunan spiral dan kecepatan rotasi dipilih agar dapat mengolah umpan dalam jumlah tertentu. Kemudian area overflow, dipilih agar sesuai dengan cut point yang tepat pada kecepatan overflow tertentu. Yang terakhir adalah area kompresi fraksi partikel kasar.

1. Kesetimbangan masa

Dengan menggunakan system metric.



2. Memilih kecepatan peripheral dari spiral dan efisiensi gesekan butir.

Kecepatan peripheral dipilih untuk menghindari spiranl bergerak terlalu cepat yang akan menyebabkan turbulensi berlebih dalam zona separasi atau akan mengurangi waktu pengeringan bagi fraksi yang kasar. Efisiensi gesekan butir (pasir) memperlihatkan bahwa sebuah spiral bukanlah merupakan alat transport yang 100% efisien dan beberapa partikel akan mengalami kecenderungan untuk meluncur balik khususnya ketika dilakukan proses terhadap material yang halus atau basah. Pemilihan didasarkan pada table dibawah.


3. Menghitung Kapasitas corrected rake


Kapasitas corrected rake =





4. Ukuran Partikel eqivalen

Pool area dihitung dengan mengasumsikan sebuah partikel dengan spesifik gravity 2.65. Jika kondisi aktualnya berbeda, maka sebuah koreksi harus dilakukan, yaitu mengalikannya dengan √ (SG -1 / 1,65) (Hukum Stokes)
Sebagai contoh, sebuah partikel dengan ukuran 80 μm SG 3.2, mempunyai factor koreksi √ (3.2 -1 / 1,65) = 1.15, sehingga ukuran partikel eqivalennya adalah 80 x 1.15 = 92 μm.

5. Kecepatan turunnya Partikel.

Kecepatan turun dari partikel bisa dibaca dari diagram dibawah, sesuai dengan ukuran partikel eqivalennya dan persen volume padatan dalam overflow.



6. Menghitung Overflow pool area

Overflow pool area dihitung sebagai


0.7 merupakan factor gangguan pada spiral.

7. Menghitung Tekanan Pool Area

Partikel yang turun dalam classifier tank akan tenggelam meskipun dalam kecepatan yang terus berkurang (teori hindered settling). Untuk menghindari terjadinya partikel yang terlalu kecil tenggelam sampai ke dasar, dan sebaliknya partikel yang terlalu besar muncul di overflow, tekanan pool area harus selalu diperiksa.
• Dari diagram 1 bisa baca kecepatan turun untuk partikel dengan 40 % volume padatan.
• Hitung volume kompresi dari partikel kasar pada 40% v/v dengan membagi berat kering dibagi (SG x 0.4)

Hitung tekanan pool area sebagai

Faktor 0.7 sama dengan diatas, dan 0.8 menyatakan pool area yang lebih kecil pada level tekanan kompresi tersebut.

8 Pemilihan Clasifier

Pilih unit yang paling kecil yang masih bisa memenuhi persyaratan diameter spiral, overflow pool area, dan kompresi pool area. Dimensi mesin dan daya (tenaga) motor penggarak diambil dari Technical data sheet.

Contoh data Seleksi classifier

Nama Mineral : Bijih Sulpfida
Kapasitas : 20 mtph (atau ton per jam)
Persen Padatan : 35 w/w
SG padatan : 3.2
Ukuran umpan : 80% - 250 μm
Duty : De-sliming pada 100 μm




1. Kesetimbangan Masa




2. Kecepatan peripheral dan efisiensi sand raking
Dari table 1 interpolasikan kecepatan peripheral sebesar 0.35 m/s dan efisiensi 68% dari SG padatan 3.2 dan ukuran umpan 80% - 250 μm.

3. Kapasitas corrected rack = 2.8 / 0.68 = 4.1 m3/jam
4. Dari table 2 ukuran spiral terkecil yang kapasitas transportnya masih mencukupi adalah yang berdiameter 60 cm, single pitch dan 8 rpm.

5. Hitung Ukuran Partikel Eqivalen = 100 x √ (3.2 – 1) / 1.65 = 115 μm.

6. Baca kecepatan settling pada diagram 1 dari partikel 115 μm pada 12% v/v. Kecepatan settlingnya adalah 19 mph.

7. Hitung Overflow pool area = 39.7 / (0.7 x 19) = 3 m2.

8. Baca kecepatan settling pada diagram 1 dari partikel 115 μm 40% v/v: 2.2 mph.

9. Hitung Compression ool Area [5 / (3.2 x 0.4)] / (0.7 x 0.8 x 2.2) = 3.2 m2.

10. Clasisfier terkecil dengan ukuran pool area (dibutuhkan sebesar 3.2 m2) adalah jenis SC 60 FF-1 (pada Tabel 4). Dengan single pitch dan 8 rpm (table 2) sehingga kapasitas raking yang diperlukan bisa terpenuhi.


IV.3. Klasifikasi Kering.

Klasifikasi dengan menggunakan udara ataupun air mempunyai banyak persamaan. Dalam kedua proses tersebut, digunakan gaya tarik dari media sehingga berpengaruh terhadap pergerakan partikel yang berbeda ukurannya.

Klasifier Kering

Gambar disamping memperlihatkan prinsip – prinsip utama system klasifier udara (Delta sizer).

Pergerakan udara keatas dan turbulensi disekitar rotor memastikan terjadinya disperse material.
Gaya tarik aerodinamik akan menarik partikel – partikel halus melalui rotor, dan pada saat yang sama gaya sentrifugal menolak partikel – partikel oversize. Klasifikasi secondary terjadi pada saat partikel oversize jatuh melewati aliran udara yang bergerak keatas, membebaskan partikel – partikel halus yang terikat pada partikel – partikel kasar.
Kontrol ukuran dalam sirkuit crushing dan grinding.

Sirkuit Crushing – Screening terbuka

• Proses screening di awal mencegah terjadinya penggumpalan
• Menurunkan keausan dari crusher
• Kapasitas total yang lebih besar
• Media screening mengontrol produk dalam dua dimensi.




Sirkuit Crushing – Screening

• Screen menurunkan kapasitas
• Peningkatan kalibrasi produk
• Bentuk kubik yang lebih baik
• Rasio Reduksi yang lebih tinggi



Sirkuit Grinding – Screening

• Digunakan sebagai perangkap untuk partikel berukuran kritis dalam sirkuit Autogeneus dan semi Autogeneus (1).
• Digunakan untuk melakukan pembagian partikel berdasarkan fraksi ukuran dari sirkuit Autogeneus untuk proses pebble grinding. (1)
• Digunakan dalam sirkuit yang memproses mineral – mineral berat untuk menghindari overgrinding (screening halus) (2)
• Screen dalam kondisi statis (cut point tetap) tidak terlalu toleran dalam perubahan ukuran produk, menyebabkan variasi dalam beban.
• Kerusakan mekanik atau clogging dari media screen bisa mengganggu jalannya operasi

Sirkuit Grinding – Klasifikasi

• Klasifier yang dinamik lebih toleran terhadap perubahan ukuran produk dimana cut point terjadi perubahan.
• Cyclone efektif diaplikasikan sebagai klasifier untuk cut point dibawah 200 mikron (1)
• Klasifier Spiral efektif sebagai klasifier pada cut point sampai 800 mikron.
• Klasifier Spiral dan Cyclone bisa digunakan dengan saling melengkapi jika cut point lebih kasar dari 200 mikron (2)


Sistem Klasifier Kering

Tipikal system klasifier kering terlihat seperti pada gambar dibawah ini.

PROSES REDUKSI UKURAN MINERAL

Mineral yang berkristral cenderung pecah dalam berbagai bentuk dan ukuran yang tak terhingga bilamana ada energi yang menekan. Permasalahan utama dalam reduksi ukuran adalah dalam hal membatasi banyaknya mineral yang oversize ataupun undersize, sekaligus meningkatkan jumlah hasil mineral hasil proses yang ukurannya seperti yang diinginkan.

III.1. Material Umpan

Semua jenis proses reduksi ukuran, baik proses crushing maupun grinding ditentukan oleh karakteristik umpan dari mineral (batuan/bijih). Parameter utama yang kita butuhkan dari karakteristik mineral tersebut adalah crushability atau grindability, juga dikenal dengan indeks kerja dan profil keausan yang dikenal dengan indeks abrasi. Index kerja dan indeks abrasi dari beberapa jenis material umpan dari proses crushing terhadap batuan, mineral dan bijih, terlihat dalam tabel dibawah.


III.2. Rasio Reduksi

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, semua operasi reduksi umumnya dilakukan dalam beberapa tahapan proses. Semua peralatan yang digunakan, crusher atau grinder masing – masing mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap ukuran umpan dan ukuran produknya. Hubungan antara peralatan dan ukuran mineral yang dihasilkan dikenal dengan rasio reduksi.

III.3. Crushing

Proses crushing berbeda – beda tergantung jenis mineral umpan, system operasinya, dan produk akhir yang diinginkan.

III.3.1. Proses Crushing untuk Batuan dan Gravel (Kerikil).

Proses crushing batuan atau gravel dengan produk akhir sebagai filler dalam industri pemberat (ballast), umumnya hasil proses masih berupa material kasar dengan ukuran dan bentuk yang tertentu. Ukuran produk hasil crushing berkisar dari 4 sampai 18 mm.
Untuk menjaga bentuk produk dan meminimalkan undersize, proses crushing ini dilakukan dalam beberapa tahapan.
Tiga tahapan proses crushing batuan untuk aplikasi concrete :

III.3.2. Proses Crushing untuk Bijih dan Mineral

Proses crushing yang dilakukan bertujuan untuk mendapatkan ukuran hasil akhir yang relative halus, sekitar 100 mikron (150 mesh). Jumlah tahapan crushing bisa dikurangi sampai pada ukuran yang diinginkan untuk kemudian diumpankan dalam proses grinding.


III.3.4. Perhitungan Rasio Reduksi pada proses Crushing.

Semua jenis crusher mempunyai rasio reduksi yang terbatas, sehingga reduksi ukuran seringkali harus dilakukan dalam beberapa tahap. Jumlah tahapan dalam proses crushing tersebut ditentukan oleh ukuran umpan, dan ukuran hasil yang diinginkan. Contohnya bisa dilihat dibawah

Ukuran Umpan : F80 = 400 mm
Batuan hasil proses peledakan berukuran 80% lebih kecil dari 400 mm

Ukuran produk yang diinginkan : P80 = 16 mm
Umpan grinder 80% lebih kecil dari 16 mm

Total rasio reduksi
R = F80 / P80 = 400 / 16 = 25

Rasio reduksi dalam crushing tahap pertama
R1= 3
Rasio reduksi dalam crushing tahap kedua
R2 = 4
Rasio reduksi total dari dua tahap crushing = R1xR2 = 3x4 = 12
Rasio total tersebut kurang dari rasio yang dibutuhkan yaitu sebesar 25, sehingga dibutuhkan proses crushing tahap ketiga. Dengan tiga tahapan crushing yang dilakukan, kita bisa mengurangi ratio reduksi dalam tiap tahap untuk menurunkan beban kerja peralatan.
Sebagai contoh :
Reduksi tahap pertama, R1 = 3
Reduksi tahap kedua, R2 = 3
Reduksi tahap ketiga, R3 = 3
Dari ketiga tahap tersebut maka didapatkan Rasio reduksi total
R1 x R2 x R3 = 3 x 3 x 3 = 27
Rasio reduksi tersebut sudah mencukupi rasio reduksi yang dibutuhkan.

III.3.5. Pemilihan Crusher.

Setelah mengetahui berapa tahapan proses crushing, dilanjutkan dengan pemilihan jenis crusher yang tepat untuk setiap tahapan reduksi ukuran. Pemilihan jenis crusher ini tergantung dari ukuran umpan, kapasitas, tingkat kekerasan, dan beberapa hal lain. Untuk crusher tahap pertama, bisa dilihat dibawah.



III.3.5.1. Tipe Primary Crusher (Crusher tahap pertama)

Untuk umpan yang lunak (kekerasan dibawah 5 skala mohs), alternatif pertamanya adalah dengan menggunakan Horizontal Impaktor (HIS) jika tidak dibutuhkan kapasitas yang terlalu besar.
Untuk umpan yang lebih keras, pilihannya adalah dengan menggunakan gyratory crusher atau jaw crusher.


Aturan 1:Sebisa mungkin gunakan jaw crusher
Karena merupakan alternatif yang ekonomis

Aturan 2:Untuk kapasitas kecil, gunakan jaw crusher
dan martil hidrolik untuk produk oversize

Aturan 3:Untuk kapasitas besar, gunakan jaw crusher
Dengan opening yang besar

Aturan 4:Untuk kapasitas yang sangat besar, gunakan
Gyratory crusher.
Ukuran Primary Crusher

Crusher biasanya dibedakan dari ukuran umpan yang terbesar. Pada umpan dengan ukuran tertentu, dengan mengetahui kapasitasnya, kita bisa menentukan mesin yang sesuai.
Contoh: batuan yang keras setelah diledakkan dengan ukuran yang paling besar 750 mm. Kapasitas 2000 ton/jam.
- Jenis Primary crusher yang digunakan?
- Cek pada dua mesin kompresi dibawah dan tentukan titik sizing.
- Pilihan yang tepat adalah tipe superior S60-89.

Primary Gyratory – ukuran umpan vs kapasitas.
Primary Jaw Crusher – Ukuran umpan vs kapasitas

Primary Impaktor – Ukuran umpan vs kapasitas


III.3.5.2. Tipe Secondary Crusher

Dalam sirkuit crushing batuan, tahapan crushing kedua biasanya diperlukan untuk mengontrol ukuran dan bentuk produk. Jaw crusher dalam banyak kasus tidak dikategorikan sebagai secondary crusher. Yang seringkali digunakan dalam proses secondary ini adalah cone crusher.


Cone Crusher.

Dibandingkan dengan jenis crusher yang lain, cone crusher mempunyai beberapa keuntungan yang membuatnya sangat cocok digunakan untuk proses reduksi ukuran dan pembentukan. Keuntungan tersebut ada pada chamber dan kemungkinan untuk mengganti umpan selama proses berlangsung.

- Intake dari chamber pas dengan ukuran umpan
- Setiap ukuran mesin mempunyai pilihan chamber yang berbeda – beda.
- Setiap chamber mempunyai hubungan antara ukuran umpan dan kapasitas yang tertentu.
- Dengan menaikkan Ecc. (Eksentrik setting pada CSS=Closed Side Setting yang sama) akan meningkatkan kapasitasnya, dengan resiko hasilnya akan lebih kasar.
- Dengan meunurunkan CSS akan menurunkan kapasitas.

Perkiraan ukuran produk:
- Dari Cone Crusher 70 – 80% < CSS
- Dari Gyratory Crusher 55 – 60% < CSS

Ukuran Secondary Crusher

Secondary Crusher – Ukuran umpan vs kapasitas (Range GPS)


Cone Crusher – Ukuran umpan vs Kapasitas (Range HP dan MP)

Secondary Impaktor – Ukuran umpan vs kapasitas


III.3.5.3. Crushing Tahap Akhir

Reduksi ukuran akhir dan sekaligus bentuk akhir dari mineral dihasilkan pada tahap ini, yang lebih lanjut akan berpengaruh terhadap mutu dari produk akhir. Untuk batuan dengan karakter yang relative keras, hanya ada dua pilihan sirkuit yaitu cone crusher atau vertical shaft impaktor (VSI).


Vertikal Shaft Impaktor (VSI)

Horisontal Impaktor biasanya impaktor berupa logam. Ini berarti sirkuit impaktor tersebut terbatas kemampuannya hanya untuk mineral atau batuan dengan kekerasan yang tertentu saja, dimana untuk material yang lebih keras keausan akan menjadi masalah yang signifikan.
VSI Impaktor dengan tipe Barmac menggunakan metode impak batuan terhadap batuan dimana impaktornya dilapisi dengan batuan pelindung. Proses crushing terjadi dalam suatu system yang dikenal dengan “rock cloud” dalam crushing chamber, efek impak bukan terjadi antara umpan batuan dengan batuan pelindung.





Ukuran Crusher tahap akhir

Tertiary cone crusher – Ukuran Umpan vs Kapasitas


Tertiary Cone Crusher – Ukuran Umpan vs Kapasitas

VSI Crusher – Ukuran umpan vs Kapasitas

III.3.6. Wet Crushing sebelum Proses Grinding.

WaterFlush merupakan proses crushing secara basah yang telah dipatenkan untuk menghasilkan partikel yang lebih halus dengan menggunakan cone crusher yang telah didesain secara khusus. Metode ini ditujukan khususnya untuk aplikasi tambang pada secondary crushing, dan crushing bijih yang akan dilakukan pelindian (leaching). Output dari crusher merupakan slurry denngan 30 – 70% padatan. Proses waterflush ini bisa dijadikan alternative untuk crushing konvensional sebelum memasuki proses grinding.

III.4. Grinding

Reduksi ukuran dengan proses crushing mempunyai keterbatasan dalam hal ukuran akhir partikel. Untuk reduksi ukuran lebih lanjut, katakan dibawah 5 – 20 mm, harus dilakukan proses grinding. Grinding merupakan proses powdering atau pulverizing dengan menggunakan gaya mekanika batuan seperti impak, kompresi, penggesekan, dan penggerusan.
Dua tujuan utama dari proses grinding adalah:
• Untuk membebaskan mineral – mineral yang terperangkap dalam kristal batuan (bijih), sehingga kandungan mineral tersebut semakin tinggi akibat terpisah dengan kandungan lain.
• Menghasilkan partikel halus dari fraksi – fraksi mineral dengan memperbanyak permukaan spesifik.

Metode – metode Grinding


III.4.1. Grinding Mill

Rasio Reduksi

Semua jenis impaktor mempunyai rasio reduksi yang terbatas. Di bawah terdapat reduksi ukuran secara teoritis dan kisaran daya yang dibutuhkan untuk grinding mill yang berbeda – beda.




Tumbling Mill












































































































III.4.2. Biaya Operasional Grinding

Biaya utama dalam proses grinding adalah untuk energi, liner, dan media grinding. Biaya tersebut berbeda besarannya untuk tipe grinder yang berbeda.



III.4.3. Lining untuk grinding mill

Lining dengan bahan karet (rubber) akan memberikan umur pakai yang lebih panjang, ringan, mudah untuk diinstal, dan bisa meredam bunyi akibat proses yang berlangsung. Untuk tingkat kekerasan input grinding yang lebih tinggi, lining bisa menggunakan baja dengan pelapis karet. Apabila dua pilihan tersebut diatas tidak bisa digunakan sebagai akibat temperature proses yang tinggi, ukuran umpan, atau adanya bahan kimia tertentu, maka lining dari baja bisa digunakan.
Ore-bed merupakan lining menggunakan bahan karet yang dilapisi bahan magnet permanen untuk aplikasi khusus seperti Verti mills, grinding untuk mineral magnetit.

Komponen – komponen lining















III.4.4. Pemilihan Grinding Mill

Dasar penentuan sizing dari grinding mill adalah dengan menentukan konsumsi daya spesifik dari tahapan – tahapan proses grinding (primary, secondary, tertiary)

Sirkuit Grinding

Proses wet-grinding dengan umpan k80 25 – 30 mm, output k80 0.3 – 2 mm (#8 - #48) dalam sirkuit terbuka.





Salah satu flowsheet yang paling sering dipakai pada pabrik konsentrat adalah wet grind dengan umpan sebesar 25 mm atau ukuran produk akhir. Keluaran dari rod mill adalah 1 mm (#16).




Grinding ball satu tahapan dan sirkuit klasifikasi tunggal.

Sirkuit yang paling sederhana dan umum (walaupun bukan yang paling efisien) adalah wet-grinding dengan ukuran umpan maksimum k80 ¬sebesar 15 mm atau lebih halus untuk ukuran produk yang dihasilkan.




















Autogeneus – Satu tahap

















Autogeneus + Crusher

Untuk kasus yang tidak terlalu umum dimana ukuran kritis dari pebbles dan hasil grinding yang tidak efisien.







Autogeneus + Ball Mill + Crusher

Sering disebut juga sebagai sirkuit ABC, dibandingkan jenis sirkuit sebelumnya (Autogeneus + Crusher), pada sirkuit ini ditambahkan sebuah ball mill. Sirkuit jenis ini bisa digunakan untuk lebih menghaluskan produk dari primary mill yang terlalu kasar. Kebanyakan untuk operasi secara basah, tetapi secara kering juga bisa dilakukan.

Autogeneus + Pebble Mill

Grinding Auto Geneus dua tahap dengan primary mill dalam sebuah sirkuit terbuka dan secondary pebble mill dalam sirkuit tertutup.

Autogeneus + Ball Mill / VertiMill

Sirkuit ini sama dengan sirkuit diatas, tetapi dalam sirkuit ini pebble mill diganti dengan ball mill atau vertimill. Sirkuit ini digunakan apabila tidak terdapat pebble mill dalam sirkuit atau semua grinder autogeneus menghasilkan partikel halus yang terlalu banyak.
Semi Autogeneus + Ball Mill / VertiMill

Sama seperti sirkuit sebelumnya, hanya dengan menggunakan primary mill sebagai semi autogeneus, yang dalam banyak kasus berarti kapasitas yang lebih besar. Di Amerika Serikat / Kanada banyak sirkuit dengan model Autogeneus + Ball Mill / Verti Mill telah dikonversi ke sirkuit jenis ini.
Semi Autogeneus satu tahap.

Seperti jenis sirkuit 1, tetapi dalam sirkuit ini mill difungsikan sebagai semi autogeneus. Kondisi tersebut menyebabkan kapasitasnya meningkat selain aplikasinya yang menjadi semakin luas. Tetapi biaya operasionalnya juga meningkat akibat tingkat keausan yang menjadi tinggi (ball dan lining mudah habis).


Sirkuit tertutup dengan classifier

Untuk sirkuit proses basah dengan produk akhir yang diinginkan tidak terlalu halus dan atau tidak ada batas kekasaran atau oversize dari produk akhir. Ukuran umpan maksimum sebesar 6 mm.
Sirkuit tertutup dengan Cyclone

Untuk proses basah dengan ukuran produk yang halus atau sangat halus.

III.4.5. Kalkulasi Daya pada Proses Grinding

Formula dasar yang digunakan untuk kalkulasi ini adalah formula Bond.

W (konsumsi daya spesifik) =


Dengan P dan F merupakan 80% dari ukuran produk dan umpan yang lewat dalam micron, dan Wi dalam kWh/sh.t.

Untuk P = 100 dan F sangat besar, Wi secara kasar sama dengan W, dengan kata lain W = konsumsi daya spesifik untuk proses kominusi sebuah material dengan ukuran tertentu k80 = 100 mikron, dapat dilihat dibawah ini.

Pulverizing pada batubara

Coal Pulverizing merupakan aplikasi yang penting untuk grinding mill (tipe ball mill) dan banyak keuntungan yang didapatkan dengan menggunakan grinding tumbling.

Kapasitas tipikal (kelembaban umpan 8%)



Grinding vs Pengayaan dan Upgrading

Pada tahapan – tahapan reduksi ukuran,sebenarnya kita juga menciptakan kondisi – kondisi untuk tahapan – tahapan proses selanjutnya, yaitu pengayaan dan upgrading.
Dari gambar dibawah, kita bisa melihat efek dari under dan over grinding. Kehilangan performa pada saat proses separasi, sedimentasi dan dewatering akibat adanya mis-grinding menyebabkan masalah yang besar untuk banyak operasi, menurunkan nilai ekonimis proses.

OPERASI PENGOLAHAN MINERAL

Tahap – tahap Operasi

Tahap – tahap operasi dalam pengolahan mineral pada prinsipnya sama seperti yang telah dilakukan ribuan tahun yang lalu. Tentunya perkembangan peralatan dan system pengolahan pada masa sekarang ini telah sangat lebih modern, tetapi masalah yang dihadapi tetap sama, yaitu bagaimana mengolah mineral dengan sifatnya yang keras, abrasive, susunan kristal yang tidak homogen agar mendapatkan hasil pemisahan yang maksimal.
Pola operasi pengolahan mineral seperti pada gambar dibawah ini telah digunakan sejak jaman dulu.

Front Service : Titik awal Pengolahan Mineral

Size reduction & control : Proses untuk mendapatkan mineral dalam distribusi ukuran yang diinginkan.

Enrichment : Proses untuk meningkatkan kandungan elemen dalam suatu mineral dengan melakukan pencucian dan atau pemisahan.

Upgrading : Proses untuk menghasilkan produk akhir yang diinginkan dari suatu mineral.

Materials Handling : Tahap operasi untuk menjalankan aliran proses dengan meminimalkan gangguan.
Protection : Melakukan pengukuran untuk melindungi kondisi operasi tersebut diatas dari pengaruh sekitar.



II.2. Operasi Pengolahan – Kering atau Basah


Proses Kering


- Tidak diperlukan air dalam proses
- Tidak boleh menggunakan air dalam proses




Proses Basah
- Penggunaan air untuk efisiensi proses
- Instalasi yang lebih lengkap
- Tidak diinginkannya debu sebagai hasil proses



II.3. Penambangan dan Quarry fronts

Penambangan dan Quarry fronts merupakan titik awal untuk mendapatkan batuan dan mineral yang berharga dari deposit yang terdapat pada permukaan ataupun yang berada di dalam kerak bumi.
Operasi – operasi yang dilakukan pada penambangan ini diantaranya adalah pengeboran (dan peledakan), peremukan awal dan penanganan material baik secara kering maupun basah.
II.4. Reduksi Ukuran

II.4.1. Peremukan batuan dan mineral

Proses ini merupakan bagian proses yang terbesar dalam pengolahan mineral. Tujuan dari proses Crushing (peremukan) ini adalah untuk mendapatkan bentuk batuan atau fraksi mineral yang digunakan untuk batu beton atau material pengisi pada produksi concrete dan pengaspalan jalan. Parameter kualitasnya umumnya adalah kekuatan, ukuran, dan bentuknya.

Crushing (Peremukan) dan Grinding (Penggerusan) bijih dan mineral. Reduksi ukuran dari bijih atau mineral umumnya dilakukan untuk memisahkan mineral yang berharga dari batuan induknya. Reduksi ukuran yang harus dilakukan biasanya dalam batas 10 – 100 mikron, seperti terlihat pada kurva 1, gambar dibawah ini.
Jika material dasarnya merupakan mineral tunggal (contoh: Calcite, Feldspar), reduksi ukuran biasanya dilakukan sampai terbentuk butiran – butiran yang sangat halus, seperti terlihat pada kurva 2 gambar dibawah.
Untuk memaksimalkan derajat pemisahan mineral dalam proses reduksi ukuran batuan atau mineral, maka kombinasi antara proses Crushing dan Grinding bisa dilakukan.

II.4.2. Kontrol Ukuran

Baik crusher maupun grinder keduanya tidak bisa menghasilkan ukuran akhir yang benar – benar tepat sesuai yang diinginkan. Hal ini disebabkan disamping karena variasi dari komposisi kristal mineral (keras-lunak, abrasive – non abrasive), juga dikarenakan factor desain dan performa dari peralatan tersebut.
Kontrol terhadap ukuran produk merupakan faktor yang penting untuk meningkatkan fraksi ukuran dalam tahapan – tahapan proses dan sekaligus berpengaruh dalam meningkatkan kualitas produk akhir.
Untuk tahap pemisahan fraksi ukuran yang masih kasar, digunakan screen yang dalam prakteknya berdimensi 1 – 2 mm. Untuk fraksi yang lebih halus, harus digunakan classifier spiral dan atau hydrocyclone.


II.5. Proses Pengayaan dengan Pencucian

Pencucian merupakan metode yang paling sederhana dalam proses Pengayaan yang bertujuan untuk meningkatkan nilai dari batuan dan fraksi – fraksi mineral berukuran pasir atau lebih besar. Membersihkan pengotor – pengotor pada permukaan mineral seperti tanah liat, debu, bahan – bahan organic, atau garam – garam merupakan hal yang harus dilakukan khususnya untuk produk mineral, sebelum diperdagangkan.



II.6. Pengayaan dengan Separasi

Kebanyakan mineral – mineral berharga, dihargai karena kemurniannya. Setelah proses reduksi ukuran dan control ukuran, semua mineral akan memasuki tahap pemisahan selanjutnya.
Tergantung dari sifat – sifatnya masing – masing, mineral bisa direcoveri dengan metode separasi yang berbeda – beda.


II.7. Upgrading

Proses pengayaan yang dilakukan akan menghasilkan dua jenis produk akhir, yaitu produk yang bernilai (konsentrat) dan sisa proses yang tidak begitu bernilai (tailing).
Dua jenis produk akhir tersebut bisa jadi tidak bisa langsung dijual ataupun dibuang. Kondisi tersebut disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kandungan air, ukuran partikel, dan komposisi kimia.
Dengan melakukan upgrading maka masalah kandungan air, ukuran partikel, dan komposisi kimia dapat disesuaikan dengan kondisi yang diinginkan sehingga produk konsentrat semakin meningkat nilai ekonomisnya. Selain itu, proses upgrading ini juga dilakukan agar air sisa proses yang terdapat dalam tailing bisa direcoveri sehingga bisa dilakukan pembuangan dengan aman. Beberapa metode yang biasa dilakukan dalam proses upgrading diantaranya adalah sedimentasi, dewatering, drying, kalsinasi atau sintering.




II.8. Penanganan Material

Tanpa adanya penanganan material yang sempurna, system proses tidak bisa berjalan dengan baik. Pada lokasi yang berbeda, tahapan – tahapan proses kemungkinan akan berbeda, kondisi pengumpanan juga mungkin berbeda.
Penanganan material untuk material dalam kondisi kering didasarkan pada proses – proses loading, unloading, transportasi, penyimpanan, dan pengumpanan.
Penanganan material untuk material dalam kondisi basah, disebut juga penanganan slurry juga didasarkan pada proses – proses transportasi (dengan menggunakan pompa), pengumpanan (dengan pompa), dan penyimpanan (dengan agitasi slurry).


II.9. Keausan dalam operasi pemrosesan

Bilamana energi digunakan dalam penetrasi terhadap batuan, bijih, atau mineral, suatu masalah yang pasti terjadi adalah timbulnya aus.
Tingkat keausan yang terjadi tentunya berbeda antara mineral yang keras dan yang lunak, ukuran kecil atau besar, basah atau kering. Oleh karena itu baik mesin peralatan maupun struktur pendukungnya harus dilindungi dengan menggunakan logam, polimer, ataupun material paduan.

II.10. Lingkungan Operasi

Jika keausan diketahui mempunyai efek yang berbahaya bagi peralatan dan struktur pendukung, debu dan suara (noise) akibat proses yang terjadi juga mempunyai dampak negative utamanya terhadap operator.
Debu menimbulkan masalah bagi perlengkapan maupun operator terutama dalam proses kering. Sedangkan suara (noise) menimbulkan masalah bagi operator baik dalam proses keringmaupun proses basah.

PENGENALAN MINERAL

PENGENALAN MINERAL


“Teknik pemrosesan mineral seumur dengan peradaban manusia. Mineral dan hasil turunan dari mineral telah membangun kebudayaan manusia dari Jaman Batu sampai sekarang di Era Atom.”

I.1. Definisi Dasar

Adalah hal yang penting untuk mengetahui terlebih dahulu tentang definisi mineral, batuan, dan bijih, mengingat nilai kegunaannya yang berbeda. Perbedaan tersebut juga menyangkut cara pemrosesannya.


I.2. Mineral Buatan

Mineral buatan manusia secara harfiah bukanlah termasuk kategori mineral. Tetapi dari sudut pandang system pemrosesan, mineral buatan manusia mirip dengan mineral – mineral dari alam, dimana diproses dengan cara yang yang sama (utamanya dalam proses recycle-nya).
I.3. Kerangka Pemrosesan Mineral

Tujuan dari pemrosesan mineral adalah untuk meningkatkan mutu atau kualitas dan kegunaan dari suatu material dasar. Hasil pemrosesan yang dilakukan bisa berupa bongkahan – bongkahan mineral dengan ukuran dan bentuk yang tertentu, ataupun hasil pengayaan kandungan logam secara maksimum. Berikut merupakan gambaran dari kerangka pemrosesan mineral yang digolongkan berdasarkan ukuran produknya dan cara pemrosesannya (secara kering atau basah).

Drilling (pengeboran) merupakan teknologi untuk mendapatkan pemisahan pertama mineral dari tempat atau lokasi awal mineral tersebut berasal di alam. Pengeboran ini merupakan tahap awal dari semua tahap pemrosesan mineral, kecuali untuk mineral yang keberadaannya di alam dalam bentuk pasir atau tanah.

Crushing (Peremukan) dan Screening (Pengayakan) merupakan tahap pertama dari reduksi ukuran mineral yang dilakukan secara terkendali.

Grinding (Penghalusan) merupakan tahap lanjutan dari reduksi ukuran mineral (dilakukan baik secara basah maupun kering). Reduksi ukuran mineral yang terjadi dalam proses grinding ini bahkan sudah bisa memisahkan kandungan – kandungan yang terdapat dalam mineral itu sendiri.

Proses Slurry merupakan teknologi pemisahan mineral dengan cara basah.

Proses Pyro merupakan teknologi untuk meningkatkan derajat pemisahan mineral dengan cara pengeringan, kalsinasi, maupun sintering.

Teknologi Penanganan Material merupakan teknologi yang digunakan untuk melancarkan aliran pemrosesan mineral yang antara lain mulai dari pemuatan material, system transportasi, penyimpanan, sampai pada sistem pengumpanan mineral untuk diproses lebih lanjut.

Kompaksi merupakan teknologi yang digunakan untuk memadatkan mineral dengan cara vibrasi/penggetaran, impak, dan aplikasi tekanan.


I.4. Tingkat Kekerasan Mineral

Semua deposit mineral, batuan, ataupun bijih masing – masing mempunyai karakteristik kekerasan yang berbeda – beda, tergantung dari komposisi kimia dan kondisi geologisnya. Klasifikasi mineral berdasarkan kekerasannya yang paling sederhana adalah dengan menggunakan skala Mohs.


I.5. Mekanika Batuan

Selain ukuran dan kekerasan, sifat mekanik batuan juga merupakan dasar yang diperlukan dalam pemrosesan mineral. Dengan mengetahui mekanika batuan, akan membantu kita dalam mendesain peralatan yang diperlukan.

ISTILAH TAMBANG

 jelaskan perbedaan tahap-tahap kegiatan pertambangan & penambangan ?
jawab :
- Pertambangan adalah suatu kegiatan yang mencakup mulai dari prospeksi, eksplorasi, evaluasi, development, eksploitasi dan penjualan/pemasaran bahan galian.
- Penambangan adalah suatu kegiatan yang berusaha melepaskan bahan galian dari batuan induknya yang dibawa kepermukaan untuk diolah demi kepentingan/kebutuhan orang banyak.
 perbedaan mineral dan maseral ?
jawab :
“ Mineral adalah suatu benda padat anorganik yang terdapat di alam secara alamiah mempunyai komposisi kimia secara tertentu dan sifat fisik yang tetap.
“ Maseral adalah unsur-unsur organik yang terdapat di alam secara alamiah sebagai pembentuk batubara.
 skala mosh ?
jawab :
Skala mosh adalah skala yang menunjukkan tingkat kekerasan mineral yaitu daya tahan mineral terhadap goresan.
 TINGKAT KEKERASAN (skala Mosh)
1. Talk : Mg3O4Si2O10
2. Gipsum : CaSO4 2H2O
3. Kalsit : CaCO3
4. Fluorit : CaF5
5. Apatit : C5PO4
6. Ortoklas : KalSi2O4
7. Kuarsa : SiO2
8. Topas : Al2(FOH)2SiO2
9. Korundum : Al2O3
10. Intan : C

 perbedaan sumberdaya dan cadangan ?
jawab :
“ Sumber daya adalah material yang terdapat di alam baik zat cair, zat pada maupun gas yang mengandung satu atau lebih komoditas dan diharapkan dapat menguntungkan bila ditambang.
“ Cadangan adalah endapan bahan galian yang dapat menguntungkan bila ditambang berdasarkan teknologi pada saat ini, karena telah melalui sutau perhitungan yang teliti.
5. apa yang dimaksud dengan anomali ?
jawab :
Anomali adalah segala sesuatu yang menunjukkan gejala yang lain daripada gejala di tempat lain.
6. tahap-tahap kegiatan eksplorasi ?
jawab :
“ Target eksplorasi meliputi dimana daerahnya, bahan galian apa.
“ Peninjauan lapangan meliputi survei geologi regional, sampling secara acak pada daerah-daerah prioritas.
“ Eksplorasi pendahuluan meliputi pemetaan topografi, pemetaan geologi, survei geokimia, survei geofisika dan pemboran awal.
“ Eksplorasi lanjut meliputi survei geofisika, pemboran lanjutan.
“ Eksplorasi detail meliputi pemboran detail, sampling detail.
“ cadangan bahan galian (cadangan terukur).
7. jelaskan metode geofisika dan geokimia ?
jawab :
“ Metode geokimia adalah pengukuran secara sistematis satu atau lebih unsur jejak dalam batuan, tanah, sedimen sungai aktif, vegetasi, air atau gas untuk mendapatkan anomali geokimia.
“ Metode geofisika adalah kegiatan yang dilakukan berdasarkan kontras atau perbedaan sifat fisik dari batuan, mineral, dan bijih dari endapan yang diukur.
8. rumus kimia : galena, kalkopirit, silika, halit dan pirit
jawab :
- galena : PbS
- kalkopirit : CuFeS2
- silika : SiO2
- halit : NaCl
- pirit : FeS2
 genesa terbentuknya endapan nikel primer dan sekunder ?
jawab :
“ Endapan nikel primer adalah endapan nikel yang terbentuk langsung dari pembekuan magma yang membentuk batuan beku ultra basa peridotit dengan kandungan Ni ± 0,2 %.
“ Endapan nikel sekunder adalah endapan nikel yang terbentuk sebagai konsentrasi residu dan proses pelapukan yang batuannya berasal dari batuan ultra basa peridotit dan serpentinit.
 batuan-batuan yang mengandung Ni ?
jawab :
- peridotit : 0,2000 %
- gabro : 0,0160 %
- diorit : 0,0040 %
- granit : 0,0002 %
 apa yang dimaksud dengan skala ?
jawab :
Skala adalah perbandingan antara jarak penggambaran di peta dengan jarak sebenarnya dilapangan.
 jelaskan pengolahan dan metalurgi ?
jawab :
“ Pengolahan adalah proses pemisahan mineral-mineral berharga dari mineral-mineral tidak berharga. Proses pengolahan meliputi communution, sizing dan concentration.
“ Metalurgi adalah proses ekstraksi logam dari bijihnya, dimana terjadi perubahan sifat kimia.
 Apa itu COG ?
jawab :
“ Kadar rata-rata terendah yang dapat menguntungkan bila ditambang berdasarkan teknologi pada saat ini.
“ Kadar terendah yang masih menguntungkan bila ditambang.
 Perbedaan stock yard dan stock pile ?
jawab :
“ Stock yard adalah tumpukan material/bahan galian yang belum melalui suatu proses pengolahan.
“ Stock pile adalah tumpukan material/bahan galian yang sudah melalui sutau proses pengolahan.
 Apa itu mesh ?
jawab :
Mesh adalah jumlah lubang yang terdapat dalam satu inch linier.
 Pebedaan ETO dan EFO ?
jawab :
“ ETO adalah produksi yang dilakukan pada front penambangan kemudian diangkut ke stock yard.
“ EFO adalah produksi yang dilakukan pada saat pengosongan grizzly kemudian diangkut ke stock pile.
 Perbedaan iklim dan cuaca ?
jawab :
“ Iklim adalah keadaan yang berhubungan dengan gejala atmosfir dan daerah cakupannya luas dengan jangka waktu sangat lama.
“ Cuaca adalah keadaan pada suatu tempat dengan jangka waktu terbatas dan daerah cakupannya kecil.
 Jelaskan jenis-jenis kontur ?
jawab :
“ Kontur indeks adalah garis kontur yang biasanya mempunyai nilai antara 5 – 10 kali dari kontur biasa, umumnya dibuat garis tebal.
“ Kontur setengah adalah garis kontur yang digambarkan dengan garis putus-putus dengan nilai ketinggian adalah setengah dari kontur biasa.
“ Kontur biasa adalah garis kontur yang digambarkan dengan garis biasa yang memperlihatkan titik ketinggian suatu daerah.
 perbedaan tambang terbuka dan tambang dalam ?
jawab :
“ Tambang terbuka adalah segala aktifitas penambangannya berhubungan langsung dengan udara luar.
“ Tambang bawah tanah adalah segala aktifitas penambangannya tidak berhubungan langsung dengan udara luar.
 Jelaskan metode tambang terbuka dan tambang dalam ?
jawab :
Metode tambang terbuka :
“ Open pit, open cut, open cast dan open mine adalah metode penambangan yang diterapkan untuk bahan galian logam.
“ Quarry adalah metode penambangan yang diterapkan untuk bahan galian non logam.
“ Strip mine adalah metode penambangan yang diterapkan untuk endapan bahan galian yang posisinya horisontal atau agak miring.
“ Alluvial mine adalah metode penambangan yang diterapkan untuk endapan alluvial.
Metode tambang bawah tanah :
“ Open stope methods :
? gophering adalah sistem yang arah penggaliannya selalu mengikuti arah endapan bijih.
? underground glory hole adalah sistem penggaliannya dimulai dari atas raise dan diperbesar ke segala arah.
? shrikage stoping adalah sistem penggaliannya dilakukan secara over hand.
? sublevel stoping adalah sistem dimana dibuat sublevel-sublevel dengan jarak tertentu.
“ Supported methods :
? cut and fill stoping adalah sistem penggaliannya dimana broken orenya dikeluarkan seluruhnya dan diganti dengan fiiling material.
? shrinkage stoping adalah sisitem yang menerapkan perpaduan antara shrinkage dan cut and fill stoping.
? square set stoping adalah sistem penambangannya digunakan timber untuk menyangga seluruh ruangan bekas tambang.
? stull stoping adalah sistem penambangannya menggunakan stull untuk menyangga antara hanging wall dan foot wall.
“ Caving methods :
? top slicing adalah sistem penggaliannya diawali dari puncak yang dilakukan slice demi slice.
? sublevel caving adalah sistem penggaliannya dengan membuat sublevel-sublevel.
? block caving adalah penambangannya dengan memanfaatkan runtuhnya broken ore dalam tiap block level.
 Apa itu stripping ratio dan BESR ?
jawab :
“ Stripping ratio adalah perbandingan antara jumlah overburden yang akan dikupas dengan endapan bijih yang akan dikupas.
“ BESR adalah perbandingan antara keuntungan kotor dengan ongkos pengupasan overburden.
22. apa perbedaan over burden dan inter burden ?
jawab :
“ Overburden adalah material yang berada diatas endapan bahan galian.
“ Inter burden adalah material yang berada diantara endapan bahan galian.
23. curah hujan dalam mm buktikan ?
jawab :
Curah hujan mempunyai satuan mm, sebab dalam luas 1 m2 dapat diperoleh air sebanyak N mm. Misal : 10 mm/24 jam artinya dalam waktu 24 jam terdapat air sebanyak 10 liter dalam luas 1 m2.
Bukti : 1 liter = 1 dm3
10 liter = 0,01 m3
10 liter/m2 = 0,01 m3/ m2
= 0,01 m = 10 mm (terbukti)
24. cara menentukan % kemiringan jalan ?
jawab :
Rumus dasar :
Sin ? = a/b
Cos ? = c/b
a b tg ? = a/c

c

 jelaskan cara menentukan lintang dan bujur ?
jawab :
Keliling bumi di katulistiwa : 40.070 km
Keliling bumi di kutub : 39.941 km
Maka tiap derajat bumi setara dengan :
Lintang = 40.070 km/360º = 111,3056 km
Bujur = 39.941 km/360º = 110,9472 km
Bila letak kontra karya penambangan antara 116,40º BT – 116,55º BT (selisih 0,15º ) dan 8,5º LS – 9,05º LS (selisih 0,55º), maka luasnya adalah :
= (0,15º x 110,9472 km/º) x (0,55º x 111,3056 km/º)
= ( 16,64208 x 61,21808) km
= 1018,7961 km2
Share this:
Digg
Reddit
About reokta
Merupakan seorang yang bergolongan darah AB. Sangat menyukai sesuatu yang berkaitan dengan Sejarah, Budaya, Desain, dan Sains Posted by ashar !

TURBIN UAP

Turbin uap merupakan suatu penggerak mula yang mengubah energi potensial uap menjadi energi kinetik dan energi kinetik ini selanjutnya diubah menjadi energi mekanis dalam bentuk putaran poros turbin. Poros turbin, lansung atau dengan bantuan roda gigi reduksi, dihubungkan dengan mekanisme yang akan digerakkan. Tergantung pada jenis mekanisme yang digunakan, turbin uap dapat digunakan pada berbagai bidang seperti pada bidang industri, untuk pembangkit tenaga listrik dan untuk transportasi. Pada proses perubahan energi potensial menjadi energi mekanisnya yaitu dalam bentuk putaran poros dilakukan dengna berbagai cara.
Turbin uap modern pertama kali dikembangkan oleh Sir Charles Parsons pada tahun 1884. Pada perkembangannya, turbin uap ini mampu menggantikan peranan dari kerja mesin uap piston torak. Hal ini disebabkan karena turbin uap memiliki kelebihan berupa efisiensi termal yang besar dan perbandingan berat dengan daya yang dihasilkan yang cukup tinggi. Pada prosesnya turbin uap menghasilkan gerakan rotasi, sehingga hal ini sangat cocok digunakan untuk menggerakkan generator listrik. Pada saat ini, sudah hampir 80% pembangkit listrik diseluruh dunia telah menggunakan turbin uap.
Secara umum turbin uap dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu turbin impuls, reaksi dan gabungan. Penggolongan ini berdasarkan cara mendapatkan perubahan energi potensial menjadi energi kinetik dari semburan uapnya.


Turbin Uap Turbin uap adalah suatu penggerak mula yang mengubah energi potensial menjadi energi kinetik dan energi kinetik ini selanjutnya diubah menjadi energi mekanik dalam bentuk putaran poros turbin. Poros turbin langsung atau dengan bantuan elemen lain, dihubungkan dengan mekanisme yang digerakkan. Tergantung dari jenis mekanisme yang digerakkan turbin uap dapat digunakan pada berbagai bidang industri, seperti untuk pembangkit listrik.

Turbin uap merupakan salah satu jenis mesin yang menggunakan metode external combustion engine (mesin pembakaran luar). Pemanasan fluida kerja (uap) dilakukan di luar sistem. Prinsip kerja dari suatu instalasi turbin uap secara umum adalah dimulai dari pemanasan air pada ketel uap. Uap air hasil pemanasan yang bertemperatur dan bertekanan tinggi selanjutnya digunakan untuk menggerakkan poros turbin. Uap yang keluar dari turbin selanjutnya dapat dipanaskan kembali atau langsung disalurkan ke kondensor untuk didinginkan. Pada kondensor uap berubah kembali menjadi air dengan tekanan dan temperatur yang telah menurun. Selanjutnya air tersebut dialirkan kembali ke ketal uap dengan bantuan pompa. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa turbin uap adalah mesin pembangkit yang bekerja dengan sistem siklus tertutup.



Komponen Utama Turbin Uap
Secara umum komponen-komponen utama dari sebuah turbin uap adalah :
• Nosel, sebagai media ekspansi uap yang merubah energi potensial menjadi energi kinetik.
• Sudu, alat yang menerima gaya dari energi kinetik uap melalui nosel.
• Cakram, tempat sudu-sudu dipasang secara radial pada poros.
• Poros, sebagai komponen utama tempat dipasangnya cakram-cakram sepanjang sumbu.
• Bantalan, bagian yang berfungsi uuntuk menyokong kedua ujung poros dan banyak menerima beban.
• Kopling, sebagai penghubung antara mekanisme turbin uap dengan mekanisme yang digerakkan.

Klasifikasi Turbin Uap
Turbin uap dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Menurut arah aliran uap Turbin aksial
Fluida kerja mengalir dalam arah yang sejajar terhadap sumbu turbin
Turbin radial
Fluida kerja mengalir dalam arah yang tegak lurus terhadap sumbu turbin.
b. Menurut prinsip aksi uap
Turbin impuls
Energi potensial uap diubah menjadi energi kinetik di dalam nosel.
Turbin reaksi
Ekspansi uap terjadi pada sudu pengarah dan sudu gerak.
c. Menurut kondisi uap pada sisi masuk turbin.
Turbin tekanan rendah
Memakai uap pada tekanan 1,2 – 2 ata.
Turbin tekanan menengah
Memakai uap pada tekanan sampai 40 ata.
Turbin tekanan tinggi
Memakai uap pada tekanan sampai 170 ata atau lebih.
Turbin tekanan super tinggi
Memakai uap pada tekanan sampai 235 ata atau lebih.
d. Menurut pemakaiannya di bidang industri
- Turbin stasioner dengan putaran yang konstan yang dipakai terutama untuk generator.
- Turbin stasioner dengan putaran yang bervariasi dipakai untuk mengerakkan blower turbo, pompa, dan lain-lain.
- Turbin tidak stasioner dengan putaran yang bervariasi, biasa digunakan pada kapal dan lokomotif uap

Turbin Impuls VS Turbin Reaksi (untuk lebih jelas, klik pada gambar)
Adapun turbin impuls mengubah energi potensial uapnya menjadi energi kinetik didalam nosel (yang dibentuk oleh sudu-sudu diam yang berdekatan). Nosel diarahkan kepada sudu gerak. Didalam sudu-sudu gerak, energi kinetik diubah menjadi energi mekanis. Energi potensial uap berupa ekspansi uap, yang diperoleh dari perubahan tekanan awal hingga tekanan akhirnya di dalam sebuah nosel atau dalam satu grup nosel yang ditempatkan didepan sudu-sudu cakram yang berputar. Penurunan tekanan uap didalam nosel diikuti dengan penurunan kandungan kalornya yang terjadi didalam nosel. Hal ini menyebabkan naiknya kecepatan uap yang keluar dari nosel (energi kinetik). Kemudian energi kecepatan semburan uap yang keluar dari nosel yang diarahkan kepada sudu gerak (sudu-sudu cakram yang berputar) memberikan gaya impuls pada-pada sudu gerak sehingga menyebabkan sudu-sudu gerak berputar (melakukan kerja mekanis).
Atau bisa dafahami secara sederhana pronsip kerja dari turbin impuls yaitu turbin yang proses ekspansi lengkap uapnya hanya terjadi pada kanal diam (nosel) saja, dan energi kecepatan diubah menjadi kerja mekanis pada sudu-sudu turbin. Kecepatan uap yang keluar dari turbin jenis ini bisa mencapai 1200/detik. Turbin jenis ini pertama kali dibuat oleh de Laval, yang mana turbin ini mampu beroperasi pada putaran 30.000rpm. Pada aplikasinya turbin impuls ini dilengkapi dengan roda gigi reduksi untuk memindahkan momen putar ke mekanisme yang akan digerakkan seperti generator listrik.
Turbin reaksi yaitu turbin yang ekspansi uapnya tidak hanya terjadi pada laluan-laluan sudu pengarah (nosel) yang tetap saja tetapi juga terjadi pada laluan sudu gerak (sudu-sudu cakram yang berputar), sehingga terjadi penurunan keseluruhan kandungan kalor pada semua tingkat sehingga terdistribusi secara seragam. Turbin yang jenis ini umumnyan digunakan untuk kepentingan industri. Kecepatan uap yang mengalir pada turbin (yang biasanyan nekatingkat) lebih rendah yaitu sekitar 100 – 200 m/detik.

MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI

MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI
REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI
NOMOR : 1211,~/008/~.PE/1995
TENTANG
PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PERUSAKAN DAN PENCEMARAN
LINGKUNGAN PADA KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN UMUM
MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI,
Menimbang : bahwa sebagai pelaksanaan dari Pasal 17 Undangundang
Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuanketentuan
Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup,
perlu mengatur ketentuan mengenai pencegahan dan
penanggulangan perusakan dan pencemaran
lingkungan pada kegiatan usaha pertambangan umum;
Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 (LN Tahun
1967 Nomor 22, TLN Nomor 2831);
2. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 (LN Tahun 1982
Nomor 12, TLN Nomor 3215);
Menetapkan
3, Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969
(LN Tahun 1969 Nomor 60, TLN Nomor 2916)
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 79 Tahun 1992 (LN Tahun 1992
Nomor 130, TLN Nomor 3510);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 (LN
Tahun 1980 Nomor 47, TLN Nomor 3174);
5. Peraturan ~emerintah Nomor 20 Tahun 1990
(LN Tahun 1990 Nomor 84, TLN Nomor 3409);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 (LN
Tahun 1993 Nomor.24, TLN Nomor 3538);
7. Keputusan Presiden Nomor 96/M Tahun 1993
tanggal 17 Maret 1993;,
1
M E M U T U S K A N :
: KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI TENTANG
PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PERUSAKAN DAN
PENCEMARAN LINGKUNGAN PADA KEGIATAN USAHA
PERTAMBANGAN UMUM
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Pengertian
Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan :
a. Pencegahan dan penanggulangan perusakan dan
pencemaran lingkungpn adalah salah satu upaya
1
terpadu dalam pelaksanaan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan sehingga Fercapai tujuan
pemanfaatan, penataan, pemellharaan, pengawasan,
pengendalian, pemulihan dan pengembangan
lingkungan pada kegiatan usaha
pertambangan umum
b. Penambangan adalah kegiatan yang dilakukan
baik secara manual maupun mekanis untuk
mendapatkan bahan galian
c. Reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan
memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang
terganggu sebagai akibat kegiatan usaha
ertambangan uxuum, agar dapat berfungsi dan
gerdaya guna sasuai peruntukannya
d. Pasca tambang adalah masa' setelah berhentinya
ke iatan tambang pada seluruh atau sebagia~
w li! a yah usaha pertambangan eksploitasi/operasi
produksi, baik karena berakhirn a izin usaha
partambangan dan atau karona drkembalikannya
seluruh atau seba ian wilayah usaha pertanbangan
eksploitas 4 /operasi produksi
e. Tanah pucuk (top soil) adalah lapisan tanah
Eaardsa horizon teratas yang mengandung unsur
f. Tanah penutup adalah tanah dan atau batuan
yang menutupi bahan galian atau berada dl
antara bahan galian
g. ailing adalah material buangan dari proses
pengolahan
h. Pengusaha pertambangan adalah impinan
perusahaan pertambangan yang ditunjug sesuai
ketentuan pada badan usaha perusahaan tersebut
i. ~irektur Jenderal adalah Direktur Jenderal
yang bertanggung jawab di bidang pertambangan
umum.
Pasal 2
Ruang Lingkup
Pencegahan dan penang ulangan perusakan, dan
encemaran lin kungan da 9 am Keputusan Menterl ini
%er laku bagi Eegiatan eksplorasi , konstruksi ,
eksploitasi, pengolahan/pemurnian, penimbunan,
pengangkutan termasuk keglatan sarana penunjang.
BAB I1
KEWAJIBAN PENGUSAHA PERTAMBANGAN DAN
KEPALA TEKNIK TAMBANG
Pasal 3
Pengusaha pertambangan wajib :
a. Menjamin terlaksananya dan ditaatinya ketentuan
dalam Keputusan Menteri ini.
b. Menyediakan biaya dan fasilitas Yang
diperlukan dalam melaksanakan upaya pencegahan
dan penanggulangan perusakan dan Pencemaran
lingkungan.
c. Mendidik dan memberikan pelatihan mengenai
pengelolaan dan pemantauan lingkungan pertambangan
kepada pekerja tambang yang menangani
pencegahan dan penanggulangan perusakan dan
pencemaran lingkungan.
Pasal 4
( 1) Pengusaha pertambangan wa j ib menun j uk Kepala
Teknik Tambang untuk memimpin langsung dl
lapangan dalam pelaksanaan pencegahan dan
penanggulangan perusakan dan pencemaran
lingkungan pada kegiatan usaha pertambangan
umum.
(2) Dalam ha1 Kepala Teknik Tambang berhalangan,
sehingga tidak dapat memimpin langsung pelaksanaan
kegiatan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (I), Kepala Teknik Tambang wajib
menunjuk petugas untuk melaksanakan tugas dan
kewajlban Kepala Teknik Tambang.
Pasal 5
(1) Kepala Teknik Tambang wajib menyampaikan
laporan kepada Kepala Pelaksana Inspeksi
Tambang dengan tembusan kepada Kepala
Pelaksana Inspeksi Tambang Wilayah mengenai :
a. pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan secara berkala,
sesuai dengan bentuk yang ditetapkan.
b. jumlah pengadaan, penggunaan, penyimpanan
dan persediaan bahan beracun berbahaya
termasuk jumlah yang hilang dan terbuang
dalam kegiatan penambangan dan proses
pengolahan dan atau pemurnian, secara
berkala setiap 3 bulan.
c. adanya gejala yang berpotensi menimbulkan
perusakan dan atau pencemaran lingkungan.
d. terjadinya perusakan dan atau pencemaran
lingkungan berikut upaya penanggulangannya
dalam jangka waktu 1 x 24 jam.
(2) Kepala Teknik Tambang wajib menetapkan tata
cara baku untuk penanggulangan perusakan dan
pencemaran lingkungan pada tempat-tempat yang
berpotensi menimbulkan perusakan dan atau
pencemaran lingkungan.
BAB I11
PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN
Pasal 6
(1) Pengusaha pertambangan wajib menyampaikan
rencana tahunan pengelolaan lingkungan kepada
Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang dengan
tembusan kepada Kepala Pelaksana Ipspeksi
Tambang Wilayah yang memuat antara laln :
a. Rencana peruntukan lahan;
b. Teknik dan metode pengelolaan lingkungan;
c. Jadwaljpelaksanaan pekerjaan dan penyelesaian
tiap tahap reklamasi;
d. Luas lahan yang akan direklamasi;
e. Jenis tanaman yang akan ditanarn;
f. Perkiraan biaya.
(2) Pengusaha pertambangan wajib menyampaikan
rencana tahunan pemantauan lingkungan kepada
Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang dengan
ternbusan kepada Kepala Pelaksana Inspeksi
Tambang Wilayah yang memuat antara lain :
a. Parameter lingkungan yang dipantau
c. Kekerapan pemantauan
d. Perkiraan biaya pemantauan
Pasal 7
Kepala Teknik Tambang wajib melakukan upaya
pencegahan atas kemungkinan perusakan dan
pencemaran lingkungan.
Pasal 8
Dalam ha1 sudah terjadi perusakan dan atau
pencemaran lingkungan, Kepala ~eknik Tambang
wajib melakukan upaya penanggulangannya.
Pasal 9
(1) Air larian (run off) yang mengalir di
permukaan daerah yang terbuka harus dialirkan
melalui saluran yang berfungsi dengan baik ke
kolam pengendapan sebelum dibuang ke perairan
umum .
(2) Kolam pengendapan harus dibuat di lokasi yang
~stabil serta terpelihara dan berfungsi dengan
baik.
Pasal 10
Air yang berasal dari kegiatan usaha pertambangan
sebelum dialirkan ke perairan umum harus diolah
terlebih dahulu sehingga memenuhi baku mutu lingkungan
sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Pasal I1
Lereng yang dibentuk dan atau terbentuk pada
kegiatan usaha pertambangan harus mantap sesuai
dengan kondisi lingkungan setempat.
Pasal 12
(1) Reklamasi daerah bekas penambangan harus
dilakukan secepatnya sesuai dengan rencana
reklamasi dan persyaratan yang telah
ditetapkan.
(2) Reklamasi sebagaimana dimaksud ayat ( 1)
dinyatakan selesai, setelah disetujui oleh
Direktur Jenderal.
Pasal 13
( 1) Xepala Teknik Tambang wa j ib melakukan
penanaman kembali daerah bekas penambangan
dan daerah yang digunakan untuk kegiatan
usaha pertambangan sesuai dengan studi
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal)
atau Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan
Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) yang
bersangkutan.
(2) Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang dapat memberikan
pengecualian atas kewajiban penanaman
kembali sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
Pasal 14
(1) Kepala Teknik Tambang wajib membuat peta
pengelolaan dan pemantauan lingkungan.
(2) Bentuk dan tata cara penyampaian peta
sebagaimana dimaksud dalam ayat (I),
ditetapkan oleh Direktur' Jenderal.
Pasal 15
(1) Dalam pelaksanaan penambangan :
a. Pembukaan lahan harus dilakukan sesuai
dengan kebutuhan penambangan.
b. Tanah pucuk (top soil) hasil pengupasan
harus segera dimanfaatkan untuk keperluan
revegetasi.
c. Tanah penutup hasil pengupasan dan
material buangan lainnya harus ditimbun
dengan cara yang benar dan pada tempat
yang aman.
d. Timbunan tanah penutup dan material buangan
lainnya harus dipantau secara berkala.
e. Gangguan keseimbangan hidrologis harus
seminimal mungkin.
f. Kegiatan penambangan dan penimbunan bahan
galian, limbah serta penampungan air
limpasan harus dilakukan sedemikian rupa
sehingga air tanah terhindar dari
pencemaran.
g. Kegiatan transportasi terutama yang
melalui daerah pemukiman tidak boleh
menimbulkan polusi udara.
(2) Dalam pelaksanaan kegiatan tambang permukaan
dengan sistem jenjang perlu dilakukan studi
tentang kemantapan lereng, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku .
(3) Tanah pucuk (Top Soil) yang tidak dapat
segera dimanfaatkan kembali untuk keperluan
revegetasi, perlu diamankan dari perusakan
dan erosi.
Pasal 16
(1) Pelaksanaan kegiatan tambang permukaan dan
tambang bawah tanah sedapat mungkin dilakukan
dengan metode pengisian kembali (back
filling).
(2) Penambangan dengan metade pengisian kembali
(back filling) harus memanf aatkan tanah
penutup atau tailing sebagai bahan pengisian
kembali daerah bekas penambangan.
Pasal 17
(1) Kegiatan tambang bawah tanah tidak boleh
dilakukan di bawah bangunan-bangunan penting
apabila penambangan tersebut dapat
mengakibatkan penurunan permukaan.
(2) Dalam ha1 kegiatan tambang bawah tanah pada
lokasi sebagaimana dirnaksud dalam ayat ('I),
tidak menimbulkan penurunan permukaan,
maka kegiatan penambangan dapat dilakukan
setelah mendapatkan persetujuan dari Kepala
Pelaksana Inspeksi Tambang.
3) Kegiatan tambang bawah tanah yang diatasnya
tidak ada bangunan-bangunan penting dan
mengakibatkan penurunan permukaan tanah,
sedapat mungkin kegunaan lahan yang rusak
akibat penurunan permukaan tanah tersebut
dipulihkan fungsinya.
Pasal 18
(1) Penyimpanan bahan berbahaya dan beracun harus
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan
yang berlaku.
(2) Penggunaan bahan berbahaya dan beracun untuk
keperluan kegiatan usaha pertambangan harus
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Pasal 19
Tingkat kebisingan yang ditimbulkan oleh kegiatan
usaha pertambangan tidak boleh melebihi baku mutu
lingkungan yang ditentukan dalam peraturan
perundang-undangan.
Pasal 20
Kegiatan peledakan tidak boleh menimbulkan
gangguan dan atau kerusakan terhadap rumah,
bangunan penting lainnya, dan lingkungan di
sekitarnya.
Pasal 21
Sarana penampungan tailing harus dibuat di daerah
yang stabil dengan konstruksi yang aman.
Pasal 22
Kepala Teknik Tambang wajib memeriksa tailing
yang mengandung bahan berbahaya dan beracun
secara terus menerus dan melaporkan hasil
pemeriksaannya secara berkala setiap 3 bulan
sekali kepada Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang
dengan tembusan kepada Kepala Pelaksana Inspeksi
Tambang Wilayah.
Pasal 23
Ksnsentrasi debu dan gas yang ditimbulkan dari
kegiatan penambangan dan proses pengolahanl
pemurnian yang lepas ke udara bebas tidak boleh
melampaui batas maksimum baku mutu lingkungan
yang ditetapkan.
Pasal 24
Penggunaan air kerja pada proses pengolahan dan
pemurnian, dan pada penambangan hidrolis harus
diupayakan dilakukan dengan sirkulasi tertutup.
Pasal 25
Laboratorium dan peralatan pemantauan yang
digunakan untuk keperluan pemantauan lingkungan,
harus memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan.
BAB I V
PASCA TAMBANG
Pasal 26
(1) Pengusaha pertambangan wajib menyampaikan
laporan secara tertulis kepada Direktur
Jenderal mengenai rencana penutupan tambang,
selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sebelum
berakhirnya operasi penambangan.
(2) Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
berlaku juga bagi rencana pengembalian
seluruh atau sebagian dari wilayah usaha
pertambangan tahap eksploitasi/operasi
produksi .
Pasal 27
Dalam laporan rencana penutupan tambang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) memuat
mengenai adanya dampak 1 ingkungan yang per lu
dikelola pada pasca tambang dan pelaksanaan
pengelolaan dampak lingkungan dimaksud.
Pasal 28
Batas waktu tanggung jawab pengusaha pertambangan
dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada
pasca tambang ditetapkan oleh ~irektur Jenderal.
BAB V
JAMINAN REKLAMASI
Pasal 29
(1) Pengusaha pertambangan dapat diwajibkan untuk
menempatkan dana jaminan pelaksanaan
reklamasi dan mendepositokan dana tersebut
dalam rekening perusahaan yang bersangkutan
di suatu bank yang ditunjuk oleh pemerintah.
(2) Besarnya dana jaminan pelaksanaan reklamasi
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan tata
cara penempatan serta pengembaliannya,
ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
(3) Dana jaminan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) tidak membebaskan pengusaha pertambangan
untuk melaksanakan reklamasi.
BAB VI
KETENTUAN LAIN
Pasal 30
(1) Terhadap perusahaan yang dinilai berhasil
dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan akan diberikan tanda penghargaan
oleh Merit-eri Pertambangan dan Energi.
(2) Tata cara pelaksanaan pemberian tanda
penghargaan dan penilaian terhadap
keberhasilan pelaksanaan pengelolaan
lingkungan serta persyaratan untuk memperoleh
tanda penghargaan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (I), ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
(3) Segala biaya yang diperlukan untuk pemberian
tanda penghargaan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) dan ayat (2) dibebankan kepada
anggaran Direktorat Jenderal atau sumbersumber
lain yang sah.
BAB V I I
KETENTUAN P..E NUTUP
Pasal 31
Semua kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan
pertambangan yang telah ada sebelum
ditetapkan Keputusan Menteri ini, dalam jangka
waktu 2 tahun wajib menyesuaikan dengan Keputusan
Menteri ini.
Pasal 32
Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Keputusan
Menteri ini dikenakan ancaman hukuman sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 33
(1) Dengan berlakunya Keputusan Menteri ini, maka
Peraturan Menteri Pertambangan Nomor 04/P/M/
Pertambl77 tanggal 28 September 1977 dan
peraturan pelaksanaannya dinyatakan tidak
berlaku lagi.
(2) Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi
pelaksanaan Keputusan Menteri ini, ditetapkan
oleh Direktur Jenderal.
Pasal 34 . -
Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
ENERGI.

PENGGOLONGAN BAHAN GALIAN

PENGGOLONGAN BAHAN GALIAN DAN BAHAN GALIAN INDUSTRI
4.1. Penggolongan Bahan Galian
4.1.1. Penggolongan bahan galian berdasarkan Pemanfaatannya
Bahan galian menurut pemanfaatannya dikelompokkan atas tiga golongan :
 Bahan galian Logam / Bijih (Ore); merupakan bahan galian yang bila dioleh dengan teknologi tertentu akan dapat diambil dan dimanfaatkan logamnya, seperti timah, besi, tembaga, nikel, emas, perak, seng, dll
 Bahan galian Energi; merupakan bahan galian yang dimanfaatkan untuk energi, misalnya batubara dan minyak bumi.
 Bahan galian Industri; merupakan bahan galian yang dimanfaatkan untuk industri, seperti asbes, aspal, bentonit, batugamping, dolomit, diatomae, gipsum, halit, talk, kaolin, zeolit, tras.

4.1.2. Penggolongan bahan galian di Republik Indonesia
Di Indonesia, penggolongan bahan galian dapat dilihat dalam Undang-Undang No 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. Dalam UU ini, bahan galian dibagi atas tiga golongan :
A.golongan bahan galian strategis (Golongan A)
B.golongan bahan galian vital (Golongan B)
C.golongan bahan galian yang tidak termasuk dalam Golongan A atau B.
Penggolongan bahan-bahan galian didasari pada :
a. Nilai strategis/ekonomis bahan galian terhadap Negara;
b. Terdapatnya sesuatu bahan galian dalam alam (genese);
c. Penggunaan bahan galian bagi industri;
d. Pengaruhnya terhadap kehidupan rakyat banyak;
e. Pemberian kesempatan pengembangan pengusaha;
f. Penyebaran pembangunan di Daerah
Selanjutnya UU 11/1967 ini ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah Tentang Penggolongan Bahan Galian (PP No 27/1980), yang menyatakan sebagai berikut:
a. Golongan bahan galian yang strategis adalah:
- minyak bumi, bitumen cair, lilin bumi, gas alam;
- bitumen padat, aspal;
- antrasit, batubara, batubara muda;
- uranium, radium, thorium dan bahan-bahan galian radioaktip lainnya;
- nikel, kobalt;
- timah
b. Golongan bahan galian yang vital adalah:
- besi, mangan, molibden, khrom, wolfram, vanadium, titan;
- bauksit, tembaga, timbal, seng;
- emas, platina, perak, air raksa, intan;
- arsin, antimon, bismut;
- yttrium, rhutenium, cerium dan logam-logam langka lainnya;
- berillium, korundum, zirkon, kristal kwarsa;
- kriolit, fluorpar, barit;
- yodium, brom, khlor, belerang;
c. Golongan bahan galian yang tidak termasuk golongan A atau B adalah:
- nitrat-nitrat, pospat-pospat, garam batu (halite);
- asbes, talk, mika, grafit, magnesit;
- yarosit, leusit, tawas (alum), oker;
- batu permata, batu setengah permata;
- pasir kwarsa, kaolin, feldspar, gips, bentonit;
- batu apung, tras, obsidian, perlit, tanah diatome, tanah serap (fullers earth);
- marmer, batu tulis;
- batu kapur, dolomit, kalsit;
- granit, andesit, basal, trakhit, tanah liat, dan pasir sepanjang tidak mengandung unsur-unsur mineral golongan a amupun golongan b dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi pertambangan.
Sementara itu, dalam bagian Penjelasan, dicantumkan bawa arti penggolongan bahan-bahan galian adalah :
a. Bahan galian Strategis berarti strategis untuk Pertahanan dan Keamanan serta Perekonomian Negara;
b. Bahan galian Vital berarti dapat menjamin hajat hidup orang banyak;
c. Bahan galian yang tidak termasuk bahan galian Strategis dan Vital berarti karena sifatnya tidak langsung memerlukan pasaran yang bersifat internasional.
Dari penggolongan bahan galian di atas, terlihat bahwa bahan galian industri sebagian besar termasuk ke dalam bahan galian golongan C, walaupun beberapa jenis termasuk dalam bahan galian golongan yang lain.

4.2. Bahan Galian Industri
4.2.1. Penggolongan bahan galian industri berdasarkan cara terbentuknya
Penggolongan bahan galian industri berdasarkan atas asosiasi dengan batuan tempat terdapatnya, dengan mengacu pada Tushadi dkk [1990, dalam Sukandarumidi, 1999] adalah sebagai berikut :
a. Kelompok I : BGI yang berkaitan dengan Batuan Sedimen,
kelompok ini dapat dibagi menjadi :
 Sub Kelompok A : BGI yang berkaitan dengan batugamping : Batugamping, dolomit, kalsit, marmer, oniks,
 Posfat, rijang, dan gipsum
 Sub Kelompok B : BGI yang berkaitan dengan batuan sedimen lainnya : bentonit, ballclay dan bondclay, fireclay, zeolit, diatomea, yodium, mangan, felspar.
b. Kelompok II, BGI yang berkaitan dengan batuan gunung api : obsidian, perlit, pumice, tras, belerang, trakhit, kayu terkersikkan, opal, kalsedon, andesit dan basalt, paris gunung api, dan breksi pumice.
c. Kelompok III, BGI yang berkaitan dengan intrusi plutonik batuan asam & ultra basa : granit dan granodiorit, gabro dan peridotit, alkali felspar, bauksit, mika, dan asbes
d. Kelompok IV, BGI yang berkaitan dengan batuan endapan residu & endapan letakan : lempung, pasir kuarsa, intan, kaolin, zirkon, korundum, kelompok kalsedon, kuarsa kristal, dan sirtu
e. Kelompok V, BGI yang berkaitan dengan proses ubahan hidrotermal : barit, gipsum, kaolin, talk, magnesit, pirofilit, toseki, oker, dan tawas.
f. Kelompok VI, BGI yang berkaitan dengan batuan metamorf : kalsit, marmer, batusabak, kuarsit, grafit, mika dan wolastonit.

4.2.2. Penggolongan bahan galian industri berdasarkan pemanfaatannya
Sebagaimana telah dituliskan pada bagian sebelumnya, bahan galian industri adalah bahan galian tambang bukan bijih yang digunakan sebagai bahan baku industri; penggunaan dalam industri banyak ditentukan oleh sifat fisika seperti warna, ukuran partikel, kekerasan, plastisitas, daya serap, dan lain-lain. Adapun bahan bangunan / bahan galian kontruksi tidak lain adalah bahan galian industri yang belum disebtuh rekayasa teknik. Oleh sebab itu, dengan semakin majunya rekayasa teknik tidak tertutup kemungkinan jenis bahan galian industri akan bertambah jenisnya.
Berbagai klasifikasi bahan galian industri telah dipublikasikan oleh para ahli, namun sampai saat ini masih terus didiskusikan. Para ahli tersebut umumnya, mengelompokkan Bahan Galian Industri berdasarkan pemanfaatannya, misalnya Noetsaller (1988) “Profile of Industrial Minerals by End-uses Classes”, dan lain-lain.
Pada tulisan ini, bahan galian industri akan dibahas berdasarkan penggunaan akhirnya juga, antara lain : semen & Konstruksi; keramik; pangan & minyak sawit; pupuk / pertanian / perikanan / peternakan, gelas / kaca dan Cat; baterai, farmasi, kosmetika; dan industri lainnya. Namun perlu dipahami, bahwa pengelompokan bahasan tersebut hanya untuk mempermudah peserta kuliah dalam mengasosiasikan berbagai bahan galian industri yang berkaitan dengan industri tertentu, dan bukan merupakan klasifikasi baku untuk mengelompokkan bahan galian industri tersebut.
Pengelompokan bahasan ini ditujukan untuk mempermudah peserta kuliah dalam menggali referensi lanjutan yang nantinya akan diperlukan dalam mengambil matakuliah pilihan di Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Unlam, antara lain : Teknologi Pulp & Kertas, Teknologi Keramik, Teknologi Semen, Teknologi Batubara, Teknologi Petrokimia, Teknologi Bahan Makanan, dan Teknologi Pengolahan Mineral.












A. Batuan-batuan di bumi (Jenis dan terbentuknya)
Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana bagian dari Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana bagian dari lautan lebih besar daripada bagian daratan. Akan tetapi karena daratan adalah bagian dari kulit bumi yang dapat kita amati langsung dengan dekat maka banyak hal-hal yang dapat pula kita ketahui dengan cepat dan jelas. Salah satu diantaranya adalah kenyataan bahwa daratan tersusun oleh beberapa jenis batuan yang berbeda satu sama lain. Dari jenisnya batuan-batuan tersebut dapat digolongkan menjadi 3 jenis golongan. Mereka adalah : batuan beku (igneous rocks), batuan sediment (sedimentary rocks), dan batuan metamorfosa/malihan (metamorphic rocks). Batuan-batuan tersebut berbeda-beda materi penyusunnya dan berbeda pula proses terbentuknya.
Batuan beku atau sering disebut igneous rocks adalah batuan yang terbentuk dari satu atau beberapa mineral dan terbentuk akibat pembekuan dari magma. Berdasarkan teksturnya batuan beku ini bisa dibedakan lagi menjadi batuan beku plutonik dan vulkanik. Perbedaan antara keduanya bisa dilihat dari besar mineral penyusun batuannya. Batuan beku plutonik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang relatif lebih lambat sehingga mineral-mineral penyusunnya relatif besar. Contoh batuan beku plutonik ini seperti gabro, diorite, dan granit (yang sering dijadikan hiasan rumah). Sedangkan batuan beku vulkanik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang sangat cepat (misalnya akibat letusan gunung api) sehingga mineral penyusunnya lebih kecil. Contohnya adalah basalt, andesit (yang sering dijadikan pondasi rumah), dan dacite . Dalam geologi, sebuah intrusi adalah sebuah batuan beku yang telah menjadi kristal dari sebuah magma yang meleleh di bawah permukaan Bumi. Magma yang membeku di bawah tanah sebelum mereka mencapai permukaan bumi dinamakan pluton, dari nama Pluto, Dewa Romawi dunia bawah tanah. Batuan dari jenis ini juga disebut sebagai batuan beku plutonik atau batuan beku intrusif. Dia berlawanan dengan batuan ekstrusif. Batuan yang mengelilingi pluton disebut country rock.
Batuan sediment atau sering disebut sedimentary rocks adalah batuan yang terbentuk akibat proses pembatuan atau lithifikasi dari hasil proses pelapukan dan erosi yang kemudian tertransportasi dan seterusnya terendapkan. Batuan sediment ini bias digolongkan lagi menjadi beberapa bagian diantaranya batuan sediment klastik, batuan sediment kimia, dan batuan sediment organik. Batuan sediment klastik terbentuk melalui proses pengendapan dari material-material yang mengalami proses transportasi. Besar butir dari batuan sediment klastik bervariasi dari mulai ukuran lempung sampai ukuran bongkah. Biasanya batuan tersebut menjadi batuan penyimpan hidrokarbon (reservoir rocks) atau bisa juga menjadi batuan induk sebagai penghasil hidrokarbon (source rocks). Contohnya batu konglomerat, batu pasir dan batu lempung. Batuan sediment kimia terbentuk melalui proses presipitasi dari larutan. Biasanya batuan tersebut menjadi batuan pelindung (seal rocks) hidrokarbon dari migrasi. Contohnya anhidrit dan batu garam (salt). Batuan sediment organik terbentuk dari gabungan sisa-sisa makhluk hidup. Batuan ini biasanya menjadi batuan induk (source) atau batuan penyimpan (reservoir). Contohnya adalah batugamping terumbu

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

SALINAN
PERATURAN
MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 20 TAHUN 2008
TENTANG
PENETAPAN INPASSING PANGKAT DOSEN BUKAN PEGAWAI NEGERI SIPIL
YANG TELAH MENDUDUKI JABATAN AKADEMIK PADA
PERGURUAN TINGGI YANG DISELENGGARAKAN OLEH MASYARAKAT
DENGAN PANGKAT PEGAWAI NEGERI SIPIL
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL
Menimbang : a. bahwa dalam rangka sertifikasi dosen dan penyaluran tunjangan profesi perlu penetapan inpassing pangkat dosen bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang telah menduduki jabatan akademik dengan pangkat Pegawai Negeri Sipil;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Penetapan Inpassing Pangkat Dosen Bukan Pegawai Negeri Sipil yang telah menduduki jabatan akademik pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan pangkat Pegawai Negeri Sipil;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586)
2
3. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 196, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4017), sebagaimana yang telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4193);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496)
5. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 94 Tahun 2006;
6. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 mengenai Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 31/P Tahun 2007;
7. Keputusan Menteri Negara Koordinator Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 38/Kep/Mk.Waspan/8/1999 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL TENTANG PENETAPAN INPASSING PANGKAT DOSEN BUKAN PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG TELAH MENDUDUKI JABATAN AKADEMIK PADA PERGURUAN TINGGI YANG DISELENGGARAKAN OLEH MASYARAKAT DENGAN PANGKAT PEGAWAI NEGERI SIPIL
Pasal 1
(1) Inpassing pangkat dosen bukan PNS pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan pangkat PNS diberikan kepada dosen yang telah memiliki jabatan akademik baik yang diperoleh melalui pengangkatan/kenaikan jabatan secara reguler maupun melalui pengangkatan/kenaikan jabatan secara loncat jabatan.
(2) Penetapan inpassing pangkat dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang diperoleh melalui pengangkatan/kenaikan jabatan secara reguler, ditetapkan berdasarkan jenjang jabatan akademik, ijazah yang digunakan untuk pengangkatan awal ke dalam jabatan akademik, dan masa kerja dalam jabatan.
3
(3) Penetapan inpassing pangkat dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang diperoleh melalui pengangkatan/kenaikan jabatan secara loncat jabatan, ditetapkan berdasarkan jenjang jabatan akademik sebelum loncat jabatan dan masa kerja dalam jabatan tersebut.
(4) Penetapan masa kerja dalam jabatan secara keseluruhan dihitung sejak dari pengangkatan awal dalam jabatan akademik berdasarkan keputusan pejabat yang berwenang sampai dengan tanggal ditetapkannya inpassing pangkat.
(5) Inpassing pangkat dosen bukan PNS sebagaimana dimaksud ayat (2) menggunakan Tabel I pada Lampiran I Peraturan Menteri ini.
(6) Inpassing pangkat dosen bukan PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menggunakan Tabel II pada Lampiran I Peraturan Menteri ini.
Pasal 2
Penetapan inpassing pangkat diberikan kepada dosen bukan PNS pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat yang telah memenuhi persyaratan sebagai berikut.
a. memiliki kualifikasi akademik minimum yang diperoleh melalui pendidikan tinggi program pascasarjana yang terakreditasi sesuai dengan bidang keahliannya yaitu:
1) lulusan program magister untuk program diploma atau program sarjana; dan
2) lulusan program doktor untuk program pascasarjana;
b. menduduki jenjang jabatan akademik berdasarkan keputusan pejabat yang berwenang;
Pasal 3
(1) Pemimpin perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat mengusulkan dosen bukan PNS yang akan diinpasing pangkatnya kepada Menteri melalui Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) dengan dilampiri kelengkapan administrasi meliputi :
a. salinan/fotokopi sah ijazah pendidikan terakhir, bagi ijazah yang diperoleh dari perguruan tinggi di luar negeri telah mendapatkan pengesahan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional;
b. salinan/fotokopi sah surat keputusan pengangkatan pertama dan penetapan angka kreditnya;
c. salinan/fotokopi sah surat keputusan dan penetapan angka kredit dalam jenjang jabatan akademik yang dimiliki saat ini dan jenjang jabatan sebelumnya.

(2) Koordinator Kopertis meneliti kelengkapan administrasi dan keabsahan bukti fisik untuk menyiapkan penetapan inpassing pangkat yang menjadi kewenangannya atau mengusulkan kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Biro Kepegawaian untuk yang kewenangan penetapannya berada di tingkat Departemen.
4

(3) Kepala Biro Kepegawaian meneliti kelengkapan administratif dan keabsahan bukti fisik untuk menyiapkan penetapan inpassing pangkat yang menjadi kewenangan pejabat di tingkat Departemen.

Pasal 4
Pejabat yang berwenang menetapkan inpassing pangkat dosen bukan PNS pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan pangkat PNS sebagai berikut.
1. Sekretaris Jenderal atas nama Menteri untuk jenjang pangkat Pembina Utama ke bawah;
2. Kepala Biro Kepegawaian atas nama Menteri untuk jenjang pangkat Pembina Utama Muda ke bawah;
3. Kepala Bagian Mutasi Dosen Biro Kepegawaian atas nama Menteri untuk jenjang pangkat Pembina ke bawah;
4. Koordinator Kopertis atas nama Menteri untuk jenjang pangkat Penata Tingkat I ke bawah;
5. Sekretaris Pelaksana pada Koordinator Kopertis atas nama Menteri untuk jenjang pangkat Penata ke bawah;
6. Kepala Bagian Tata Usaha pada Koordinator Kopertis atas nama Menteri untuk jenjang pangkat Penata Muda;
Pasal 5
Inpassing pangkat dosen bukan PNS pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan pangkat PNS ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menggunakan format surat keputusan sebagaimana dimaksud pada Lampiran II Peraturan Menteri ini.
Pasal 6
(1) Kenaikan pangkat berikutnya setingkat lebih tinggi bagi dosen bukan PNS pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat yang telah ditetapkan inpassing pangkatnya harus memenuhi angka kredit yang dipersyarakatkan.
(2) Kenaikan pangkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling sedikit setelah 2 (dua) tahun dalam pangkat terakhir yang dimilikinya.
(3) Kenaikan pangkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) bagi dosen yang menduduki jabatan akademik yang dimiliki saat ini melalui loncat jabatan diwajibkan mengumpulkan angka kredit 30% (tiga puluh persen) yang berasal dari unsur utama dari jumlah angka kredit yang diperlukan untuk kenaikan pangkat selanjutnya.
(4) Keputusan kenaikan pangkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan inpassing pangkat dosen bukan PNS.
5
Pasal 7
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 6 Juni 2008
MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,
ttd.

BAMBANG SUDIBYO
Salinan sesuai aslinya
Biro Hukum dan Organisasi
Departemen Pendidikan Nasional
Kepala Bagian Penyusunan Rancangan
Peraturan Perundang-undangan
dan Bantuan Hukum II,

Bambang Haryadi, S.H.
NIP 131597936

NOMOR 20 TAHUN 2008
TENTANG
PENETAPAN INPASSING PANGKAT DOSEN BUKAN PEGAWAI NEGERI SIPIL
YANG TELAH MENDUDUKI JABATAN AKADEMIK PADA
PERGURUAN TINGGI YANG DISELENGGARAKAN OLEH MASYARAKAT
DENGAN PANGKAT PEGAWAI NEGERI SIPIL
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL
Menimbang : a. bahwa dalam rangka sertifikasi dosen dan penyaluran tunjangan profesi perlu penetapan inpassing pangkat dosen bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang telah menduduki jabatan akademik dengan pangkat Pegawai Negeri Sipil;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Penetapan Inpassing Pangkat Dosen Bukan Pegawai Negeri Sipil yang telah menduduki jabatan akademik pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan pangkat Pegawai Negeri Sipil;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586)
2
3. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 196, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4017), sebagaimana yang telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4193);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496)
5. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 94 Tahun 2006;
6. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 mengenai Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 31/P Tahun 2007;
7. Keputusan Menteri Negara Koordinator Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 38/Kep/Mk.Waspan/8/1999 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL TENTANG PENETAPAN INPASSING PANGKAT DOSEN BUKAN PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG TELAH MENDUDUKI JABATAN AKADEMIK PADA PERGURUAN TINGGI YANG DISELENGGARAKAN OLEH MASYARAKAT DENGAN PANGKAT PEGAWAI NEGERI SIPIL
Pasal 1
(1) Inpassing pangkat dosen bukan PNS pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan pangkat PNS diberikan kepada dosen yang telah memiliki jabatan akademik baik yang diperoleh melalui pengangkatan/kenaikan jabatan secara reguler maupun melalui pengangkatan/kenaikan jabatan secara loncat jabatan.
(2) Penetapan inpassing pangkat dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang diperoleh melalui pengangkatan/kenaikan jabatan secara reguler, ditetapkan berdasarkan jenjang jabatan akademik, ijazah yang digunakan untuk pengangkatan awal ke dalam jabatan akademik, dan masa kerja dalam jabatan.
3
(3) Penetapan inpassing pangkat dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang diperoleh melalui pengangkatan/kenaikan jabatan secara loncat jabatan, ditetapkan berdasarkan jenjang jabatan akademik sebelum loncat jabatan dan masa kerja dalam jabatan tersebut.
(4) Penetapan masa kerja dalam jabatan secara keseluruhan dihitung sejak dari pengangkatan awal dalam jabatan akademik berdasarkan keputusan pejabat yang berwenang sampai dengan tanggal ditetapkannya inpassing pangkat.
(5) Inpassing pangkat dosen bukan PNS sebagaimana dimaksud ayat (2) menggunakan Tabel I pada Lampiran I Peraturan Menteri ini.
(6) Inpassing pangkat dosen bukan PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menggunakan Tabel II pada Lampiran I Peraturan Menteri ini.
Pasal 2
Penetapan inpassing pangkat diberikan kepada dosen bukan PNS pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat yang telah memenuhi persyaratan sebagai berikut.
a. memiliki kualifikasi akademik minimum yang diperoleh melalui pendidikan tinggi program pascasarjana yang terakreditasi sesuai dengan bidang keahliannya yaitu:
1) lulusan program magister untuk program diploma atau program sarjana; dan
2) lulusan program doktor untuk program pascasarjana;
b. menduduki jenjang jabatan akademik berdasarkan keputusan pejabat yang berwenang;
Pasal 3
(1) Pemimpin perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat mengusulkan dosen bukan PNS yang akan diinpasing pangkatnya kepada Menteri melalui Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) dengan dilampiri kelengkapan administrasi meliputi :
a. salinan/fotokopi sah ijazah pendidikan terakhir, bagi ijazah yang diperoleh dari perguruan tinggi di luar negeri telah mendapatkan pengesahan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional;
b. salinan/fotokopi sah surat keputusan pengangkatan pertama dan penetapan angka kreditnya;
c. salinan/fotokopi sah surat keputusan dan penetapan angka kredit dalam jenjang jabatan akademik yang dimiliki saat ini dan jenjang jabatan sebelumnya.

(2) Koordinator Kopertis meneliti kelengkapan administrasi dan keabsahan bukti fisik untuk menyiapkan penetapan inpassing pangkat yang menjadi kewenangannya atau mengusulkan kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Biro Kepegawaian untuk yang kewenangan penetapannya berada di tingkat Departemen.
4

(3) Kepala Biro Kepegawaian meneliti kelengkapan administratif dan keabsahan bukti fisik untuk menyiapkan penetapan inpassing pangkat yang menjadi kewenangan pejabat di tingkat Departemen.

Pasal 4
Pejabat yang berwenang menetapkan inpassing pangkat dosen bukan PNS pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan pangkat PNS sebagai berikut.
1. Sekretaris Jenderal atas nama Menteri untuk jenjang pangkat Pembina Utama ke bawah;
2. Kepala Biro Kepegawaian atas nama Menteri untuk jenjang pangkat Pembina Utama Muda ke bawah;
3. Kepala Bagian Mutasi Dosen Biro Kepegawaian atas nama Menteri untuk jenjang pangkat Pembina ke bawah;
4. Koordinator Kopertis atas nama Menteri untuk jenjang pangkat Penata Tingkat I ke bawah;
5. Sekretaris Pelaksana pada Koordinator Kopertis atas nama Menteri untuk jenjang pangkat Penata ke bawah;
6. Kepala Bagian Tata Usaha pada Koordinator Kopertis atas nama Menteri untuk jenjang pangkat Penata Muda;
Pasal 5
Inpassing pangkat dosen bukan PNS pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan pangkat PNS ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menggunakan format surat keputusan sebagaimana dimaksud pada Lampiran II Peraturan Menteri ini.
Pasal 6
(1) Kenaikan pangkat berikutnya setingkat lebih tinggi bagi dosen bukan PNS pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat yang telah ditetapkan inpassing pangkatnya harus memenuhi angka kredit yang dipersyarakatkan.
(2) Kenaikan pangkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling sedikit setelah 2 (dua) tahun dalam pangkat terakhir yang dimilikinya.
(3) Kenaikan pangkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) bagi dosen yang menduduki jabatan akademik yang dimiliki saat ini melalui loncat jabatan diwajibkan mengumpulkan angka kredit 30% (tiga puluh persen) yang berasal dari unsur utama dari jumlah angka kredit yang diperlukan untuk kenaikan pangkat selanjutnya.
(4) Keputusan kenaikan pangkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan inpassing pangkat dosen bukan PNS.
5
Pasal 7
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 6 Juni 2008
MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,
ttd.

BAMBANG SUDIBYO
Salinan sesuai aslinya
Biro Hukum dan Organisasi
Departemen Pendidikan Nasional
Kepala Bagian Penyusunan Rancangan
Peraturan Perundang-undangan
dan Bantuan Hukum II,

Bambang Haryadi, S.H.
NIP 131597936

Desigend by : Ashar-Antek Ashar-redland.blogspot.com